Sabtu, 26 Januari 2013

Tol Menuju Merak Banjir, Kemacetan Terus Mengular

Tol Menuju Merak Banjir, Kemacetan Terus Mengular
JAKARTA, KOMPAS.com — Kemacetan akibat banjir dari luapan Sungai Ciujung sudah mengular mulai dari 1 km sebelum keluar pintu Tol Curug Bitung. Kemacetan ini membuat macet cukup panjang dari arah Tangerang-Merak dan sebaliknya.
"Sampai informasi terakhir, kemacetan padat mulai Kilometer 34 Balaraja Timur," kata Ika, petugas Call Center Jasa Marga Traffic saat dihubungi Kompas.com pada Kamis (10/1/2013).

Ika mengatakan, kemacetan mulai menurun di depan Tol Balaraja Barat. Kendaraan dialihkan untuk keluar di depan Pintu Tol Cikupa dan masuk kembali di Pintu Tol Ciujung untuk arah Jakarta menuju Tangerang. Dari arah Merak menuju Jakarta, kendaraan dialihkan keluar Pintu Tol Ciujung dan masuk kembali di Pintu Tol Cikupa, Serang, Banten.

Kepadatan kendaraan terus mengular akibat jumlah kendaraan yang terus bertambah. Dari pantauan Kompas.com, ruas tol arah Jakarta-Merak terpantau macet total mulai dari Curug Bitung sampai Pintu Tol Keluar Cikupa. Adapun arah sebaliknya mulai macet dari seputaran Merak sampai di depan Pintu Tol Ciujung. Kendaraan dipaksakan memutar rute melalui Jalan Nasional, Serang, yang cukup jauh dari pintu tol menuju Jakarta atau Merak. Jalan Nasional yang menjadi rute alternatif pun banyak genangan akibat jalan yang berlubang.

Tol Tangerang-Merak Banjir, Antrean Kendaraan Masih Mengular

Tol Tangerang-Merak Banjir, Antrean Kendaraan Masih Mengular
Mobil terjebak macet tol Jakarta-Merak di Balaraja Timur, Serang, Banten, akibat banjir luapan Sungai Ciujung yang merendam tol di kilometer 57, Kamis (10/1/2013). Akibat banjir ini akses tol Jakarta-Merak putus dan ratusan rumah warga terendam. 

JAKARTA, KOMPAS.com — Kemacetan di Tol Tangerang-Merak masih panjang. Kendaraan yang mengarah ke Merak mulai tak bisa bergerak di Kilometer 31 sampai Pintu Tol Balaraja Barat. "Info terkini yang didapatkan, kemacetan masih panjang mulai Km 31 sampai pintu keluar Balaraja Barat, tetapi bus dengan skala besar sudah bisa melintas sedikit-sedikit," kata Erika, petugas call center Jasa Marga Traffic, kepada Kompas.com pada Jumat (11/1/2013).

Kendaraan kecil seperti sedan masih tidak bisa melintasi jalan tol. Genangan air setinggi 70 sentimeter akan membuat kendaraan kecil mogok di tengah jalan, sedangkan jalur yang bisa digunakan hanya satu. Pengalihan kendaraan masih seperti kemarin. Pengendara harus keluar di Pintu Tol Balaraja Barat dan masuk di Pintu Tol Ciujung dari arah Jakarta menuju Merak.

Jika ingin menghindari kemacetan di Tol Balaraja Barat, pemilik kendaraan bisa keluar di Tol Cikupa untuk masuk lagi di Tol Ciujung. Dari arah Merak menuju Jakarta, kemacetan terjadi di Kilometer 62 sampai Pintu Tol Ciujung.

Kepadatan kendaraan belum terurai karena masih banyak yang mencoba bepergian ke arah Merak dari Jakarta atau sebaliknya. Sebelumnya, Tol Tangerang-Merak masih ditutup dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan karena luapan air di Sungai Ciujung. Akan tetapi sejak pagi tadi, kendaraan besar diuji coba untuk melewati jalur yang genangan airnya mulai surut.

Tol Tangerang-Merak Terendam di Kilometer 38

Tol Tangerang-Merak Terendam di Kilometer 38
Tol Jakarta-Merak di kilometer 57 Serang, Banten, putus karena banjir, Kamis (10/1/2013). Banjir disebabkan meluapnya Sungai Ciujung. 

TANGERANG, KOMPAS.com - Jalan tol Tangerang - Merak kembali terendam banjir dan kali ini terjadi di Kilometer 38, meski masih dapat dilalui kendaraan, Kamis (17/1/2012).

"Banjir terjadi karena Sungai Cimanceuri-Balaraja yang melewati jalan tol meluap," kata Kepala Divisi Hukum dan Humas PT Marga Mandala Sakti, Indah Permana Sari, di Jakarta, Kamis.

Indah mengatakan, banjir terjadi sejak Rabu (16/1/2013) dengan ketinggian air sampai 40 sentimeter untuk jalur B (Merak - Jakara), sedangkan arah sebaliknya ketinggian air 10 sentimeter.

Menurut dia, PT MMS bersama kepolisian mengatur lalu lintas untuk kendaraan besar di jalur 1 (jalur lambat), sedangkan kendaraan kecil di jalur 2 (jalur cepat). Sedangkan untuk arah sebaliknya seluruh lajur masih dapat dilewati semua kendaraan dengan ketinggiaan air rata-rata 100 sentimeter.

Akibat genangan yang terjadi di jalur B menimbulkan kemacetan yang sangat parah pada pukul 16.00 antrean kendaraan sudah mencapai di Kilometer 41.

Genangan itu tepatnya setelah akses keluar gerbang tol Balaraja Barat jalur B sedangkan panjang genangan sekitar 300 meter.  Indah mengatakan, genangan banjir di Kilometer 38 masih terjadi dengan ketinggian air sekitar 10 - 20 sentimeter sehingga dapat dilewati semua kendaraan.

Terkait dengan banjir di jalan tol Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Ahmad Gani Ghazali berjanji untuk berkoordinasi dengan Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PU.

"Mereka yang memiliki kewenangan dalam menata sungai termasuk menata kembali lingkungan di hulu sungai," kata Ghani. 

Sumber : Antara
Editor : Kistyarini

Tergenang Air, Jalan-jalan Utama di Jakarta Barat Lumpuh

Tergenang Air, Jalan-jalan Utama di Jakarta Barat Lumpuh
Warga berpose di tengah banjir di kawasan Puri Kembangan, Jakarta Barat, Rabu (16/1/2013). Meskipun banjir merendam rumah mereka, namun warga masih bisa tersenyum dan beraktivitas di tengah banjir. 

JAKARTA, KOMPAS.com - Banjir di jalan-jalan utama wilayah Jakarta Barat membuat kendaraan tidak bisa melintas. Di beberapa titik, ketinggian air cukup tinggi.

"Wilayah Jakarta Barat memang banyak terendam banjir. Informasi yang disebar melalui broadcast BBM (BlackBerry Messenger) itu benar. Bahkan ada beberapa titik yang tidak kami cantumkan karena tidak masuk di jalan-jalan besar," kata Wong Niti, Kasat Lantas Polres Jakarta Barat saat dihubungi Kompas.com pada Kamis (17/1/2013).

Di lain pihak, Kapolres Jakarta Barat, Kombespol Suntana mengatakan, semua anggota Polres Jakarta Barat diturunkan untuk membantu mengatur lalu lintas di jalan-jalan protokol di wilayah Jakarta Barat. Selain itu, beberapa petugas memang disiagakan di titik-titik wilayah banjir.

Ia menambahkan, petugas yang bertugas di beberapa titik banjir bekerja dengan melalukan evakuasi kepada warga yang rumahnya tergenang banjir. Sedangkan anggota kepolisian yang berjaga di jalan-jalan besar, bertugas untuk memberikan informasi atau mengalihkan jalan yang tidak bisa dilalui. "Tapi kan ada warga yang pengin coba terobos banjir, ternyata mogok, petugas bantu untuk dorong," kata Suntana.

Anggota kepolisian juga memangkas sejumlah pohon yang dikhawatirkan tumbang. Hampir seluruh anggota polres Jakarta Barat turun ke lapangan karena banjir kali ini cukup besar dan mematikan beberapa jalan besar di Jakarta Barat.

Adapun titik-titik banjir di wilayah Jakarta Barat meliputi:
1. Jl. Daan Mogot depan Samsat Jakbar 2 arah (ketinggian air 60 cm).
2. Jl. Daan Mogot depan Indosiar 2 arah (20 cm).
3. Jl. S. Parman depan Citra Land arah Grogol (100 cm).
4. Jl. Tubagus Angke arah Jembatan 2 (40 cm).
5. Jl. Panjang Mc Donald arah Green Garden (40 cm).
6. Jl. Raya Puri Kembangan lampu merah Puri Ring Road (40 cm).
7. Dekat Pospol Ring Road Cengkareng(120 cm).
8. Jl. Raya Satria Grogol arah Season City (25 cm).
9. Jl. S. Parman depan Trisakti (70 cm).
10. Jl. Kyai Tapa depan Sumber Waras (30 cm).
11. Depan Central Park (20 cm).
12. Depan Pom SPBU Jembatan Gantung (30 cm).
13. Angke (30 cm).
14. Kembangan arah Cengkareng (50 cm).
15. Yadika Joglo (30 cm).
16. Joglo arah Pos Pengumben (30 cm).
17. Kamal arah Carefour (40 cm).
18. Arjuna Selatan/Utara dpn Esa Unggul (60 cm).
19. Villa Kelapa Dua Pengumben (30 cm).
20. Meruya arah Joglo (40 cm).
21. Jembatan Lima arah Psr Mitra (25 cm).
22. Tambora Kawasan Perniagaan (50 cm). 

Editor : Kistyarini

Stasiun Tanah Abang Tergenang, Perjalanan KRL Terganggu

 Stasiun Tanah Abang Tergenang, Perjalanan KRL Terganggu
Hingga pukul 15.30, Rabu (16/1/2013) rel di jalur 6 Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, masih tergenang air.

JAKARTA, KOMPAS.com - Stasiun Kereta Api Tanah Abang, Jakarta Pusat, tergenang air akibat hujan yang terjadi sejak dini hari tadi. Imbasnya, perjalanan KRL sementara ini mengalami gangguan.

"Benar, ada genangan di Stasiun Tanah Abang, sehingga perjalanan sedikit terganggu," kata Mateta Rijalulhaq, Manajer Komunikasi PT KAI Daops 1 Jakarta, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (17/1/2013) pagi.

Ia menjelaskan, petugas masih berupaya menangani gangguan yang terjadi. Untuk sementara, PT KAI melakukan pengaturan ulang jadwal perjalanan guna menghindari luasnya dampak gangguan tersebut ke lintasan lainnya.

"Kalau Stasiun Jakarta Kota dan Kampung Bandan belum ada laporan masuk (tentang genangan)," sambung Mateta.

Perjalanan KRL dari arah Depok, menurut informasi penumpang, saat ini mengalami gangguan. Selain tersendat dan molor dari jadwal biasanya, salah satu KRL juga tertahan sementara di dekat Stasiun Pasar Minggu.

"Dari tadi tertahan di Stasiun Pasar Minggu. Enggak ada info soal gangguan perjalanan," kata Agnes, penumpang KRL lintasan Depok - Jakarta Kota.

Ia menerangkan, informasi sama diperoleh dari rekan-rekannya yang menumpang KRL lintasan Bekasi-Manggarai. Perjalanan dari Bekasi pun saat ini mengalami gangguan. 

Editor :
Kistyarini

Stasiun Cawang dan Tebet Juga Tergenang

Stasiun Cawang dan Tebet Juga Tergenang
ILUSTRASI: Penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) Ekonomi 

JAKARTA, KOMPAS.com — Perjalanan KRL lintas Bogor/Depok tujuan Jakarta berakhir di Stasiun Pasar Minggu menyusul banjir yang juga menggenangi Stasiun Cawang dan Tebet, Kamis (17/1/2013) pagi.

Manajer Komunikasi PT KAI Commuter Jabodetabek Eva Chairunisa mengatakan, KRL Bogor/Depok sudah tidak bisa lagi masuk ke Cawang karena ada genangan, baik di pelintasan maupun di area stasiun. "Saat ini, KRL hanya sampai Pasar Minggu, lalu kembali ke Depok/Bogor," ujarnya sekitar pukul 09.00.

Dengan demikian, KRL jalur lingkar juga belum bisa dijalankan, apalagi beberapa stasiun seperti Kampung Bandan dan Jakarta Kota juga banjir. Sementara itu, KRL dari Bekasi masih bisa sampai Manggarai. Adapun KRL lintas Serpong hanya bisa sampai Stasiun Palmerah karena Stasiun Tanah Abang juga tergenang sampai setinggi 60 cm.

Eva mengatakan, rel di Stasiun Palmerah hanya dua jalur sehingga kereta yang akan masuk atau berangkat dari stasiun ini harus menunggu giliran. "Ini menyebabkan antrean kereta yang cukup panjang. Kami mencoba mengurai agar antrean tidak terlalu panjang," ucapnya. Adapun KRL lintas Tangerang tidak mengalami gangguan. 

Editor :
Rusdi Amral

Genangan Air Hambat Jalur Rawa Belong

Genangan Air Hambat Jalur Rawa Belong
Genangan setinggi lebih kurang 30 cm hambat lajur arah Kebayoran Lama-Rawa Belong, Jakarta Barat, Kamis (17/1/2013). 

JAKARTA, KOMPAS.com - Hujan deras sejak semalam mengakibatkan genangan yang menutupi satu lajur ruas jalan Kebayoran Lama arah Rawa Belong dan Universitas Bina Nusantara, Kelurahan Kemanggisan, Jakarta Barat, Kamis (17/1/2013).

Akibatnya, terjadi kemacetan yang kian mengular karena arus lalu lintas di lajur yang tidak tergenang harus berbagi dengan arus dari lajur berlawanan. Tak sedikit pula kendaraan bermotor yang berputar arah mencari jalan alternatif.

"Banjir sudah dari sekitar pukul 07.00. Petugas (dari instansi terkait) belum ada yang datang. Di sini sih sudah biasa banjir begini. Sudah ditinggiin, tapi tetap banjir," ujar seorang warga bernama Ahmad, yang bersama sejumlah warga lain mengatur arus lalu lintas, baik yang ingin masuk ke lajur berlawanan, maupun ingin berputar arah.

Berdasarkan pantauan, ketinggian genangan 20 cm-30 cm. Kendaraan-kendaraan, khususnya mobil dan truk, mulai mengantre hingga sepanjang 400 meter mendekati pertigaan yang mengarah ke Kebayoran lama dan Pos Pengumben, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
 
Editor :
Erlangga Djumena

Kantor Jokowi Kebanjiran

Kantor Jokowi Kebanjiran
Air setinggi 30 centimeter menggenangi Jalan Gatot Subroto mulai dari depan Balai Kartini hingga perempatan Kuningan pada Kamis (17/1/2013) pagi ini.  

JAKARTA, KOMPAS.com — Hujan deras yang menguyur Jakarta dan sekitarnya sejak Kamis (17/1/2013) subuh membuat kantor Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo kebanjiran. Bahkan, arus listrik di Balaikota padam.

Pemadaman listrik di kantor gubernur DKI ini baru kali pertama terjadi. Saat ini pada pukul 09.15 WIB, ruangan kantor Balaikota DKI Jakarta itu tampak gelap gulita. Jokowi pun terpaksa memindahkan ruang kerjanya ke teras.

Menurut informasi seorang pegawai DKI, listrik sengaja dipadamkan. Ini karena banjir semata kaki yang menggenangi halaman Balaikota. Genangan ini dikhawatirkan akan menyebabkan hubungan pendek arus listrik.

Jokowi sendiri sempat terjebak akibat banjir di Jalan Cut Meutia. Akibatnya, mantan Wali Kota Solo ini telat ke kantor. Sejumlah janji dengan Jokowi molor. (Edy Can/Kontan)

Manggarai Siaga 1, Istana Terancam Banjir?

Manggarai Siaga 1, Istana Terancam Banjir?
Pemulung memunguti botol plastik bekas di antara sampah yang terbawa air dan menumpuk di Pintu Air Manggarai, Jakarta. 


JAKARTA, KOMPAS.com — Pagi ini pukul 07.30 WIB, kondisi Pintu Air Manggarai berada di level Siaga 1 dengan ketinggian air di pintu air mencapai 970 sentimeter atau 9,7 meter. Jika kondisi air ini terus naik, maka bisa saja air Sungai Ciliwung meluap hingga ke Istana Negara. 

Kondisi ini dikhawatirkan oleh Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ia khawatir debit air dari Sungai Ciliwung makin naik jika curah hujan di hulu sungai masih tinggi. 

Namun, Sutopo tak mau berandai-andai jika Istana kebanjiran. "Iya, jika dari hulu sungai juga besar. Kami pantau terus. Kami tidak mau berandai-andai, nanti malah meresahkan," kata Sutopo kepada KONTAN

Sekadar mengingatkan, tahun 2008 silam, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pernah membuka Pintu Air Manggarai ketika ketinggian air di pintu air mencapai 820 sentimeter, atau lebih rendah dari kondisi pintu air yang terjadi saat ini. 

Akibatnya, sejumlah daerah di Jakarta Pusat termasuk Sarinah, Monas, hingga halaman Istana Negara ikut terendam air. (Dea Chadiza Syafina/Kontan)

Kawasan HI Layaknya Sungai

Kawasan HI Layaknya Sungai
Kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, juga tergenang air akibat hujan yang turun sejak Kamis (17/1/2013) dini hari

JAKARTA, KOMPAS.com — Kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (17/1/2013) tergenang air pascahujan deras. Jika dipantau dari ketinggian, maka kawasan HI layaknya sungai. 

Pengamatan Kompas.com dari jembatan penyeberangan di depan UOB Plaza, kawasan HI di dua arah sudah tergenang air. Genangan mulai terjadi di depan UOB Plaza. Paling parah, yakni jalur arah Semanggi dengan ketinggian air sampai paha orang dewasa. 

Air yang memenuhi jalur arah Semanggi lalu mengalir ke jalur arah Thamrin. Banjir itu mengakibatkan kemacetan parah di Jalan Sudirman ke arah Thamrin. Kendaraan hanya bisa memakai jalur busway yang genangan airnya tidak terlalu tinggi. Begitu pula arah sebaliknya. 

Tak sedikit kendaraan yang mogok ketika nekat menerobos, khususnya sepeda motor. Pengendara yang tak mau ambil risiko memilih memutar arah. Genangan air bisa saja meningkat lantaran hingga pukul 10.00 WIB hujan deras masih terjadi.

Minggu, 20 Januari 2013

Banjir Masih Genangi Bundaran HI, Lalu Lintas Lumpuh

Banjir Masih Genangi Bundaran HI, Lalu Lintas Lumpuh
Kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta terendam banjir, Kamis (17/1/2013). Banjir tersebut mengakibatkan akses Jalan Sudirman - MH Thamrin lumpuh.

Kondisi banjir di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Kamis (17/1/2013) sore tak banyak berubah. Air masih menggenangi kawasan itu. Akibatnya, lalu lintas di Bundaran HI masih lumpuh. 

Pengamatan Kompas.com pukul 16.00 WIB, ketinggian air tak menurun dibanding ketinggian pada pukul 10.30 WIB. Jalanan mulai tergenang dari depan UOB Plaza di dua arah. Ketinggian genangan sampai perut orang dewasa atau sekitar 1,3 meter. 

Belasan kendaraan roda empat serta bus yang mogok masih berada di tengah banjir. Beberapa pengendara mobil dan motor yang menuju arah Semanggi tampak nekat menerobos banjir. Ada yang berhasil, ada pula yang mogok hingga keluar asap dari mesin. 

"Terusss, terusss, terusss, eeeaaa....," teriak warga kompak setiap ada mobil atau motor melintas hingga akhirnya mogok. 

Kendaraan yang lebih banyak lalu lalang sejak siang tadi yakni truk-truk untuk mengangkut warga. Truk itu dikerahkan oleh Kepolisian, TNI, Dinas Kebakaran, Satpol PP, Dinas Perhubungan, dan beberapa organisasi kemanusiaan. Selain truk, ikut dikerahkan perahu. 

Bermain hingga mencari nafkah

Tak semua warga kesusahan menghadapi banjir. Adapula yang asik bermain. Anak-anak hingga remaja asik berendam di genangan air berwarna cokelat. Akibatnya, proses evakuasi sedikit terhambat. Tak sedikit yang masuk ke tengah banjir hanya untuk foto-foto. 

Ada pula yang mencari rezeki dengan memanfaatkan gerobak untuk mengangkut warga atau sepeda motor. Sekali jalan, mereka mematok harga Rp 50.000 untuk empat orang. Mengangkut motor lebih mahal, yakni Rp 100 ribu per motor.

Sumber : kompas.com

Jokowi Naik Gerobak Susuri Banjir di Bundaran HI

 Jokowi Naik Gerobak Susuri Banjir di Bundaran HI
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo meninjau banjir yang berada di kawasan Thamrin-Bundaran HI dengan menggunakan gerobak, Kamis (17/1/2013). Banjir di kawasan Thamrin sudah sampai pinggang orang dewasa.
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo turun langsung ke lapangan untuk memantau lokasi banjir. Lokasi pertama yang dikunjungi dirinya pertama kali adalah Jl MH Thamrin, tepatnya di depan Gedung Sarinah.

Dengan menggunakan topi merah dan jaket jeans, Jokowi langsung turun di lokasi. Melihat lokasi genangan di depan Sarinah yang mencapai ketinggian 60 cm, ia menegaskan bahwa dalam penanganan banjir ini tidak boleh ada pihak-pihak tertentu yang sampai lalai menangani banjir.
"Memang ini adalah koordinasi pekerjaan integrasi antara Pemprov DKI, pemerintah pusat, bersama pemerintah daerah lainnya. Semua harus bersama-sama dan yang harus diingat jangan lalai, jangan sampai nanti setelah kering kita lupa lagi," kata Jokowi di lokasi, Kamis (17/1/2013).

Selain itu, ia juga mengaku telah menerima laporan banjir sejak tadi malam, dan ia juga menekankan bahwa penanganannya tidak boleh monoton dan konvensional, harus ada terobosan mengatasi banjir.
"Harus ada terobosan, jangan monoton, jangan konvensional," kata Jokowi yang menggunakan gerobak menyusuri Jalan MH Thamrin.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, banjir di kawasan Thamrin telah mencapai pinggang orang dewasa. Sejak di Sarinah, Jokowi naik gerobak menembus banjir menuju Bundaran HI.

Jokowi yang mengenakan sepatu boot dan jaket jeans itu naik ke gerobak dan langsung didorong warga. Sementara itu, rombongan Pemprov DKI mengikuti Jokowi dengan jalan kaki.

Seperti biasa, kehadiran orang nomor satu di DKI itu selalu menjadi pusat perhatian dan mengundang puluhan warga yang sedang berada di kawasan Thamrin untuk mendekati Jokowi sekadar untuk bersalaman.

Sumber : kompas.com

Bikin tanggul jebol, reklame jumbo ini akan digergaji Jokowi

Bikin tanggul jebol, reklame jumbo ini akan digergaji Jokowi
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) tak segan-segan akan merobohkan reklame yang terpampang di seputar flayover Kuningan. Reklame itu menancap tepat di lokasi jebolnya tanggul Kanal Banjir Barat (KBB) di Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat.

"Setelah rampung selesai dua baliho kanan-kiri akan dipotong," kata Jokowi di Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (18/1).

Jokowi belum membuat kesimpulan apakah dua tiang reklame itu menjadi penyebab jebolnya tanggul. "Ini nanti kita lihat. Itu penyebab atau tidak akan hilang, dipotong," ujar Jokowi.


Saat ini, ratusan personel dari TNI dan Satpol PP tengah berjibaku untuk menambal tanggul yang jebol sejak kemarin. Tanggul yang jebol itu ditambal dengan kerikil dan bebatuan yang nantinya akan dibeton.

Jokowi dan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto langsung memantau jalannya penambalan. Hingga sore ini, pengerjaan penambalan baru terlaksana 60 persen.

Jokowi ingin, hari ini penambalan selesai. Jika tidak, air dari KBB akan kembali meluber karena diperkirakan aliran kembali meluap.

Kemarin, akibat jebolnya tanggul telah membanjiri kawasan elite di Latuharhary. Tidak itu saja, air juga membanjiri Jalan MH Thamrin.

Sumber: merdeka.com

Banjir, Jokowi, dan Kesalahan Kita Bersama

Sudah beberapa hari terakhir Jakarta diterjang banjir, ketinggian banjir pun mulai dari sedengkul hingga mencapai dua meter. Korban juga tampak mulai berjatuhan, ada yang meninggal. Masyarakat dan tim SAR telah bahu membahu mengevakuasi warga, tapi ada yang sangat saya sayangkan disini, sungguh begitu mengganjal ketika sebagian masyarakat malah sibuk saling menyalahkan, padahal banjir adalah salah kita bersama. Belum lagi kecaman yang ditujukan pada Gubernur DKI yang baru saja dilantik pada tanggal 15 Oktober 2012, bapak Joko Widodo atau yang akrab dipanggil bapak Jokowi. Saya bukan salah satu tim sukses Jokowi, bukan pula pendukung fanatik. Tapi mari belajar menggunakan logika, beliau baru saja terpilih dan menjabat sekitar 3 bulan setelah dilantik, perubahan untuk membenahi sesuatu yang telah lama rusak akibat kesalahan yang dilakukan berkesinambungan itu bukan seperti membalikkan telapak tangan, beliau bukan Tuhan, belum lagi budaya organisasi yang terlanjur buruk di negeri ini, suap merajalela untuk melancarkan urusan, masa jabatan 3 bulan itu masih belum cukup untuk dipertanggungjawabkan atas bencana banjir yang melanda ibukota.

Mari kita ulas sekilas permasalahan ibukota ini, secara teori air selalu mengalir ke daerah yang lebih rendah, dari hulu menuju hilir. Banjir yang melanda Jakarta disebut-sebut sebagai kiriman air dari Bogor, kita sebut saja Bogor sebagai hulunya. Di musim penghujan seperti sekarang ini seperti yang kita ketahui akan meningkatkan jumlah debit air, hujan yang turun butuh daerah resapan agar jumlah yang mengalir menuju hilir berkurang jumlahnya, sedangkan daerah resapan di Bogor mulai berkurang drastis, daerah puncak sana telah banyak dibangun bangunan permanen yang tentu saja menyebabkan air tak dapat meresap dengan sempurna ke dalam tanah. Harusnya pemerintah mulai menata ulang perizinan pembangunan villa ini, selain itu pemerintah harus segera mencari cara membangun daerah resapan air agar jumlah air yang turun tidak sepenuhnya dikirim ke Jakarta. Selanjutnya di Jakarta, kita ketahui bahwa sungai-sungai di ibukota ini sudah sejak lama mengalami pendangkalan, salah satu penyebab signifikannnya adalah sampah yang telah menumpuk, salah siapa? Salah kita, sudah sejak lama kita tidak mempedulikan lingkungan. Pemerintah butuh waktu untuk melakukan pengerukan di sungai-sungai ini, dan bukan lah pekerjaan mudah memperbaiki itu semua, meskipun banjir kanal telah dibuat, tapi nyatanya para ahli beranggapan bahwa banjir kanal bukan solusi menghilangkan banjir selamanya, dan sudah kita lihat buktinya sendiri hari ini.

Itu masih masalah dari sungai, jika kita lihat di ibukota, jumlah resapan air sudah hampir hilang berganti bangunan pencakar langit. Saya pernah baca, kondisi topografi Jakarta saat ini adalah berbentuk cekungan, jadi wajar saja jika air terkurung ditengah dan sulit mengalir menuju hilir. Solusinya adalah, perbesar selokan bawah tanah, lakukan pula pengerukan sampah yang terlanjur menimbun selokan tersebut. Ya, lagi-lagi sampah, saya sangat setuju jika DPR membuat UU mengenai buang sampah sembarangan. Oke, kembali ke selokan bawah tanah, saya juga pernah membaca, selokan bawah tanah di Jepang itu ukurannya lebih tinggi dari orang dewasa, itu berarti diameternya mencapai kurang lebih 2 meter. Darimana Indonesia membiayai pembangunan itu semua, sedangkan hutang kita pada luar negeri masih banyak? Makanya, ambil kembali uang negeri ini yang telah mereka-mereka curi hanya untuk memperkaya diri. Ini yang terjadi malah korupsi berpuluh miliar dan hanya dihukum beberapa tahun penjara, tanpa penyitaan aset, dan belum lagi nanti grasi yang diberikan oleh ah sudahlah.
Itulah sebagian kecil dari kesalahan kita bersama, itulah sebagian bakal calon musibah yang sebenarnya telah kita undang sendiri kedatangannya. Memang masih banyak yang perlu dibenahi dari negeri ini, termasuk diri kita sendiri yang terbiasa menyalahkan orang lain, bukan berkaca pada diri sendiri, ironi memang.

Dan kembali ke hujatan pada bapak Jokowi, menurut kacamata awam saya yang tidak paham politik, beliau telah memulai melakukan pekerjaanya dengan baik, beliau turun ke masyarakat untuk mengetahui kondisi rakyat, meskipun sebagian pihak mencurigai ini sebagai bagian dari pencitraan untuk mendongkrak popularitas menjelang pemilihan presiden 2014, beliau disebut-sebut akan dipinang sebagai wakil presiden untuk mendampingi salah satu tokoh yang akan mencalonkan diri menjadi presiden, semoga saja tidak, saya harap beliau menjalankan amanah yang telah diberikan rakyat ini terlebih dahulu. Mari beri kesempatan untuk bapak Jokowi merealisasikan janji-janjinya sewaktu kampanya, kita dukung dan kita awasi, bekerjasama lah jangan hanya berkomentar, mari kita benahi negeri ini jika kalian memang PEDULI.

http://www.kompasiana.com/richsan
 
Free Music Sites
Free Music Online

free music at divine-music.info

Saat TV Berita Jadi TV Bencana, Nyinyir di Kala Banjir

13584767651348327588
Selamat Pagi. Saya memang sedang tak mengalami musibah banjir dengan kondisi darurat seperti yang sedang menimpa saudara-saudara di ibu kota atau mungkin daerah lain di Nusantara. Sebagian dari kita mungkin juga demikian, masih lebih beruntung dari warga Jakarta. Namun demikian hati ini pasti iba, sedih dengan kondisi warga ibukota yang terpaksa mengungsi, sakit dan terganggu aktivitasnya akibat banjir yang merendam Jakarta.

Menyaksikan perkembangannya dari timeline media sosial dan berita televisi kita bisa sedikit membayangkan betapa tak enaknya kehidupan saudara-saudara yang saat ini dikepung banjir di ibu kota. Namun ada juga rasa salut dan bangga kepada orang-orang yang selalu bisa memberikan kepeduliaanya untuk menyisihkan waktu dan tenaga membantu sesama korban, memantikkan semangat optimisme warga di tengah bencana. Saya pun kembali teringat dengan apa yang saya dan kawan-kawan dulu alami di lapangan bersama ribuan pengungsi erupsi Merapi. Tak enak memang menjalani hari dalam keterbatasan di tengah bencana, namun letupan optimisme dari satu orang sangat berarti besar dan bisa menular dengan cepat di tengah sesama yang merasakan derita. Hal ini pasti juga ada di banyak tempat pengungsian banjir di Jakarta saat ini.

Sayangnya semangat dan optimisme menghadapi bencana seringkali dikaburkan dengan model berita di sejumlah media terutama televisi. Berita-berita yang bertubi-tubi ditayangkan, momen kesedihan yang berulang ditayangkan, persaingan hot news antar televisi tertentu hingga aksi reporter lapangan beserta reportasenya yang kadang tak mengerti kondisi dan suasana kebatinan korban bencana. Hal ini semakin terasa ketika narasi dan ilustrasi yang disampaikan oleh pembawa berita cenderung menonjolkan sisi menyeramkan dari sebuah bencana. Memang banjir ibukota selalu menjadi bencana yang tak diharapkan dan ditakutkan oleh warga. Tapi tak bisakah berita itu dikemas secara lebih elegan dan proporsional?.

Bencana rasanya menjadi saat di mana sejumlah stasiun TV berita berlomba-lomba menunjukkan diri sebagai yang tercepat dan jika perlu “terdekat” dengan bencana. Ada yang mengemasnya sebagai berita 4 jam non stop, ada yang menyampaikannya dalam breaking news kejar tayang, ada juga yang membuat reportase khusus langsung dari tempat banjir terparah dan tempat pengungsian.

Bukan sesuatu yang keliru. Informasi berita itu memang diperlukan sebagai bagian dari kewaspadaan dalam menghadapi banjir. Masih banyak juga informasi berguna yang disampaikan oleh stasiun TV terkait bencana banjir. Namun sayang, persaingan  seringkali membuat sejumlah program berita menjadi lebay dan lebih banyak mengabarkan kekhawatiran dibanding mencoba memberikan informasi komprehensif yang lebih penting seperti pengungsian dan kebutuhan pengungsi. Beberapa berita itu telah menyisihkan sisi optimisme dalam menghadapi bencana.

TV Berita pun berubah menjadi TV Bencana. Ada reportase yang kritis bahkan terlampau kritis menilai kinerja pejabat dulu dan sekarang. Ada yang mengeksploitasi banjir kiriman  dari puncak dan Bogor sebagai penyebab banjir besar Ibukota. Tanpa sadar  banyak orang Bogor yang keberatan disebut sebagai pengirim banjir Ibukota.

Sejumlah berita sibuk bertanya siapakah pihak yang harus disalahkan ?. Tentu banjir ini adalah dampak dari sebuah kesalahan. Dan semua orang sebenarnya sudah tahu siapa dan apa penyebab utama banjir ini, di samping faktor geologi kondisi alamiah Jakarta yang memang merupakan sebuah paparan dengan tanah yang mudah turun. Dan faktor ini diperparah oleh banyak hal yang sebenarnya datang dari kesalahan manusia. Namun sayangnya saat bencana tiba, semua seakan lupa dan stasiun TV pun pura-pura tidak tahu dengan selalu memancing tanya siapa dan apa yang harus disalahkan ?. Kesalahan memang harus dicari dan dituntaskan. Tapi mempermasalahkan kesalahan di tengah bencana rasanya tidak menjadi bagian dari solusi utama.

Ada sebuah kicauan di twitter kemarin yang menarik tentang pandangan mengenai program berita di sejumlah TV saat ini tak ubahnya sinetron stripping yang dikejar rating. Sinetron yang kadang menambahkan bumbu-bumbu guna mendramatisir berita. 

Program berita pun menjadi semakin kreatif di tengah bencana. Segala hal yang bisa diangkat kemudian dikritisi. Bahkan hal-hal yang tidak urgen di tengah bencana menjadi tampak penting di mata mereka. Di TV One kemarin malam misalnya, saya tak habis fikir sebuah dialog justru sibuk mempermasalahkan foto SBY yang bergaya kasual mengangkat celana panjangnya saat istana terendam banjir. Berbagai spekulasi diperbincangkan hingga usil mengaitkan hal itu sebagai upaya yang disengaja sebagai bagian dari pencintraan. Sidak lapangan presiden dengan perahu karet pun dibandingkan dengan blusukan Jokowi menggunakan gerobak. 

Semuanya kembali dikaitkan dengan perlombaan meraih simpati dan membentuk citra. Terlepas dari benar atau tidaknya, bahasan ini menunjukkan bahwa TV berita seringkali menjadi terlalu kreatif di tengah bencana.

Masalah tak hanya itu saja. Reporter lapangan yang kerap menggunakan bahasa kurang proporsional dengan intonasi berapi-api juga membuat kerut di dahi. Tak bisakah mereka lebih cerdas dalam menyampaikan berita ?. Tak dipungkiri kita sering menyaksikan reportase bencana dibawakan oleh reporter yang sok tahu dengan sering mengambil kesimpulan yang terlalu cepat. Kita mungkin masih ingat sebuah kasus yang terjadi saat erupsi Merapi lalu. Sejumlah stasiun TV dihujat karena reporter lapangannya yang lebay menyiarkan kondisi bencana yang bahkan membuat kami di lapangan dan warga di pengungsian bingung sendiri. Dan kini hal itu masih terjadi, narasi bernada nyinyir menghiasi beberapa berita  banjir.

Narasi dan ilustrasi berita yang kerap digunakan oleh beberapa TV nasional rasanya perlu dikritisi. Narasi menyeramkan dengan intonasi kadar tinggi, ilustrasi musik layaknya film horor dan lagu tema kesedihan yang menyertai berita-berita itu. Tak bisakah reportase video menggunakan lagu-lagu lain yang membangkitkan optimisme menghadapi bencana. Mengapa harus selalu lagu Ebiet yang menyedihkan itu ?. Tentu itu lagu bagus, tapi kadang bukan pada tempatnya lagi lagu itu selalu diperdengarkan di tengah warga yang sedang berusaha berjuang menghadapi bencana. Sejumlah pertanyaan salah tempat dan salah kondisi juga kerap diajukan oleh reporter lapangan. Tanpa disadari pertanyaan itu telah memancing pesimisme korban bencana. Disadari atau tidak pertanyaan itu membuat pengungsi yang awalnya tabah menjadi mengeluh.

“Mengapa Ibu mau mengungsi di tempat ini yang kurang nyaman ?”.
“Keluhan apa yang ingin Bapak sampaikan kepada pejabat di Jakarta ?”

Pertanyaan di atas kerap sekali diajukan oleh reporter, seakan wajar meski boleh jadi kurang layak dimunculkan di tengah bencana.

Memang bencana selalu membawa nestapa. Tapi di tengah bencana, berita TV seharusnya menyertakan letupan optimisme untuk memelihara semangat warga menghadapi bencana, bukan justru merusak suasana.

Banjir Yang Memalukan. Itulah topik editorial pagi Metro TV hari ini. Semoga berita di Indonesia tak hanya tentang  hal yang memalukan. Dan semoga TV Nasional tak sampai mempermalukan dirinya sendiri. Dan jangan sampai media tanah air mempermalukan bangsanya sendiri.

Menyalahkan alam sama saja kita mengingkari keberadaan pikiran manusia. Menyebut banjir sebagai sebuah fenomena alam juga bukan hal yang cerdas. Mengungkit-ungkit kesalahan lama hanya membuat Jakarta tak beranjak ke solusi utama. TV Nasional perlu tampil cerdas dan inspiratif di tengah bencana. 

Semua adalah pilihan.  Semoga kali ini Ibukota memilih untuk berbenah dan semoga banjir itu lekas reda. Berbenahlah Jakarta, daya dukungmu memang sudah terlewati.

http://www.kompasiana.com/wardhanahendra

Pagar Hijau Penyelamat Rumahku Dari Terjangan Banjir

Banjir sebenarnya bukan barang baru bagi kami, penduduk dataran rendah (baca lembah). Bahkan bisa dibilang tamu langganan yang hampir pasti datang di musim hujan. Kehadirannya memang tidak kami inginkan.Tapi karena ia memaksa tetap datang dan makin lebih sering, maka kami berbalik makin bersahabat dengannya. Bagaimana kami bisa menolaknya? Kedatangannya selalu dengan permisi, memberi salam dengan suara gemuruh yang mendebarkan, menyapa dengan rintikan hujan bahkan kadang disertai geluduk yang menggelegar. Bagaimana kami tak bersahabat dengannya? Nyatanya telah membuat anak-anak di kampung kami bersuka ria bermain dengannya. Menghibur penduduk dari kampung lain yang berbondong-bondong datang menonton atau  berwisata. Seolah penderitaan kami adalah kebahagiaan mereka.
Banjir juga guru bagi kami, karena dari dialah warga kampung kami belajar menahan  marah, egois dan merangsang tumbuhnya tenggang rasa, bergotong royong bahu membahu membuat tanggul, membersihkan lumpur dan berbagi makanan, pendeknya rasa saling peduli jauh lebih besar dibanding sebelum kedatangannya. Banjir juga telah menyadarkan kami bagaimanapun air adalah makhluk Allah yang punya hak mendapat tempat/hunian untuk istirahat sebagaimana manusia, Sedang jalan menuju peristirahatannya kami rampas, kami tutup karena keserakahan kami  sebagai manusia. Sejak itu kami mesti berpikir beribu kali bila menebang pohon, membuang sampah dan lebih memperhatikan ruang geraknya.
Subhanallah, tak satupun yang tercipta dari tanganNya tak bernilai manfaat. 

Menerima segala yang dianugerahkan kepada hambaNya sebagai nikmat, terasa sangat membahgiakan, menentramkan.

Tapi bagaimanapun, banjir tetaplah bencana. Ia telah membuat kami sedih dan sangat repot. Lumpur tebal mengendap di mana-mana. Perkakas rumah, buku, pakaian semua berantakan, pindah tempat yang tidak semestinya. Betapa repot dan paniknya menyelamatkan itu semua. Belum lagi memikirkan di mana nanti kami merebahkan diri untuk beristirahat.

Pagar Hijau Menyelamatkan Rumah Kami
Januari 2007 saat paling bersejarah bagi keluarga kami. Saat itu hampir setiap hari turun hujan dan banjir bisa dipastikan selalu datang menyertainya. Suatu pagi ketika rumah dalam keadaan kosong tak berpenghuni karena aku, suami dan anak-anak berada di sekolah, aku ditelepon salah seorang saudara yang juga tetangga dekat  memberitakan ada banjir besar, kali penuh dan tanggul di sebelah timur rumah sudah retak nyaris jebol. Reflek bulu kudukku berdiri, terbayang apa yang segera terjadi. Waktu itu suami baru saja mendatangkan material untuk merenovasi rumah. Timbunan pasir, tumpukan semen dan genting untuk mengganti total atap yang selama ini bocor karena kualitas genteng yang buruk.

Seakan berlomba kami ingin lebih cepat sampai di rumah. Motor aku titipkan di rumah penduduk yang berada di tempat yang lebih tinggi yang tidak disambangi banjir lalu berjalan “ngrubyuk” sesekali berlari menuju rumah. Saat itu tiba-tiba air mataku meleleh, rumahku diserang air dari arah depan/ jalan raya dan samping timur dari arah sungai. Miris sekali aku melihatnya. Kondisi rumahku yang kecil dan sederhana membuatku berkecil hati untuk bisa bertahan dari gempuran arus air yang sangat deras. Saking derasnya disertai gemuruh yang memilukan. Aku menelepon pihak sekolah agar anakku diijinkan untuk tetap tinggal sampai banjir reda. Yang paling menyedihkan tumpukan genting yang semula tertata rapi berantakan dan banyak sekali yang pecah terbawa arus. Belum lagi pasir dan semen yang terendam air.“Sudahlah diikhlaskan saja,” kata suamiku. 

Arus makin deras menggerus pondasi rumah bagian samping timur, membentuk kubangan yang dalam. Untungnya kami membuat pagar hijau dari tanaman sebangsa serut yang mengelilingi rumah sebagai pembatas jalan. Kami menatanya membentuk pagar hijau yang asri dan memotongnya secara berkala agar rapih dan indah. Dari sinilah kebesaran Allah nampak, betapa ciptaanNya jauh lebih kuat dan layak dijadikan penahan erosi dibanding beton buatan manusia, subhanallah.

Di seberang jalan menuju rumahku ada bangunan show room kerajinan tenun ikat terbesar yang hampir setiap hari tak pernah sepi pengunjung baik domestik maupun asing, yang bangunannya super kokoh dan megah longsor,ambles seakan tersedot bumi dan barang-barang  dagangan yang berupa kain tenun itu berhambuaran ke sungai.

sejak itu, pengerukan sungai dilaksanakn dan kesadaran warga menata lingkungan, membuatkan got-got untuk mengalirkan air ke tempat yang lebih rendah/ ke hulu, banjir tak datang lagi. Alhamdulillah, tidak ada lagi kerja berat membersihkan lumpur setebal 3 cm, tak terdengar warga kampung mengeluh benang dan kainnya terendam air hingga produksi kain tetap lancar dan para karyawan tidak kehilangan pekerjaannya.


Jerman Juga Pernah Kebanjiran

Komentar plesetannya … mana mungkin? Kan yang turun salju bukan air kayak di Indonesia ….


Bukan … bukan begitu! Penyebabnya, Jerman punya rahasia. Namanya ramah lingkungan! Tidak hanya oleh pemerintah, rakyatnya juga … semuanya!

13586076481451298315
Hujan salju, banjir salju

***

Negeri sebesar AS juga langganan bencana

Sepasang suami istri asli Jerman baru saja mengunjungi kami. Mereka ini bercerita barusan honey moon di Amerika. Saya yang belum pernah ke negeri besar itu, tertarik, tanya-tanya pada si wanita, sebut saja, Nicole. Apalagi suaminya lagi gayeng, asyik membicarakan soal perusahaan, dengan suami saya ….


“Nggak ketemu Tornado, kan?” Saya penasaran menanyakan bencana yang selalu datang awal musim panas di negeri pimpinan Obama ini. 


“Wah untung, nggak. Memang sengaja agen tur memilihkan tanggal yang tidak riskan sesuai pengalaman terdahulu …” Perempuan berkacamata itu tersenyum, beberapa hari setelah mereka bertolak ke Jerman, bencana memang baru mulai di Amrik. Banjir memang dikatakan sebagian orang Jerman sendiri sebagai kejadian langka di Jerman.


“Syukurlah. Saya waktu lihat reportase di Amerika itu juga ikut mikir, wah, kasihan, mana Nicole sama Mark lagi bulan madu disana, gimana ya? Gitu. Ehhhh sekarang malah barusan Sandy, ya?`“ Kamipun mengulas badai yang namanya cakep tapi ganas itu. Seingat saya, seorang tetangga yang tinggal di sana dikabarkan meninggal. Selama di tempat penampungan, ia pernah keluar mengendarai mobil dan mengalami kecelakaan karambol. Dari beberapa mobil, tidak ada yang meninggal, kecuali wanita umuran 68 tahun itu. Prihatin.


“Alah, biasaaa … Amerika, Gana. Waktu kita nyari makan, masih banyak kok tempat styrofoamnya … lalu sampah wahhh … kotor, berantakan. Nggak kayak di kita?“. Kita? Saya kan orang Indonesia yang tinggal di Jerman. Kalau maksudnya “seperti di Jerman“, saya bisa mengangguk cepat-cepat. Indonesia tidak lebih baik dari AS soal lingkungan … belum. Kalau Jerman, saya pandang sudah mengerti, memahami dan mengikuti sekali upaya mencintai dan melestarikan lingkungan untuk masa depan, Umweltbewusst, bahkan dimulai sejak dini. Lihatlah … anak TK sudah diajari memilah sampah bio, kertas dan plastik. Bocah SD sudah tahu bahwa sampah baterei, CD, bolam lampu cs tidak boleh dibuang sembarangan karena ada tempat khususnya disekolah. Para remaja sudah tahu bahwa sebelum mereka 17 tahun lebih baik naik bis, selain ramah lingkungan … lebih murah dan lebih ramai. Ibu-ibu sudah mahir memilah sampah, hingga tak perlu membakar plastik atau membuang sampah di kali seperti di nusantara. Bapak-bapaknya taat untuk mencatatkan sampah besar yang hendak diangkut perusahaan yang bersangkutan (bukan membuangnya di hutan atau kali, seperti jaman kakek nenek Jerman, 40 tahunan yang lalu). Semua sudah teratur, ada tempatnya pula (sarana-prasarana lengkap=motivasi).


Hanya dua wilayah Jerman yang diperkirakan banjir kecil

Saya bukan ahli lingkungan bukan pula orang yang pernah langsung terjun saat banjir terjadi di Jerman. Saya hanya orang asing yang tinggal di Jerman dan mengamati iklim negeri yang saya tumpangi ini setidaknya tujuh tahun terakhir ini.

1358608436725050552
Bantaran sungai Donau, bebas dari bangunan


Dari keempat musim Jerman, ada sebuah musim yang kadang sering bikin sungai-sungai meluap, musim salju. Kalau melihat aliran Donau yang cepat (beberapa meter sebelum lingkaran menuju stasiun KA Tuttlingen, atau disekitar Marktplatz Tuttlingen, Realschule Hermann Hesse Tuttlingen, atau tempat lain yang dilewati si Donau ini), saya kadang mak tratab, hati deg-degan. Takut kenter, terhanyut bersama air yang permukaannya hampir menyamai jalan. Duhhh … gaya saya kan batu, man.

1358610617253978460
Stasiun KA Köln


Belum lagi sungai Rhein yang pernah membuat Köln dan Düsseldorf cincing-cincing kebanjiran (sekitar natal 2012). Köln sendiri pernah mengalami banjir sejak 1926, 1993 1995, 2003 hingga 2012. Dua kota tersebut banyak ditanami gedung tinggi, nyakar langit.

1358610699561160097
Gedung di Düsseldorf


Yup. Rumah kami ada di ketinggian 700-800 an m diatas permukaan air laut, dimana gunung di ujung gang ada pada 990 m. Kami tinggal di daerah Baden-württemberg. Kawasan kota kami dilewati sungai Donau. Sungai dengan yang mengalir sepanjang 2.860 km ini menjalar hingga Budapest (Hungaria) dan Viena (Austria). Sebuah legenda alam yang menakjubkan bukan? Ia tak hanya menjadi simbol energi air, sumber kehidupan dan tampang lingkungan saja, melainkan sebagai pemersatu negeri-negeri tetangganya. Sebuah pertempuran sungai ini (dari tiga negara) bisa kita amati jika menikmati kapal di Passau.

13586086411893214511
Pertempuran aliran tiga sungai dari tiga negara


13586085531801965994
Bukti sejarah banjir di Passau


Passau pernah juga banjir, … terakhir, tahun 2003 (phase III). Melihat dari perkembangan kebanjiran tahun 1501 (tertinggi), 1595, 1787, 1862, 1895, 1899, 1954, 2002 (terendah) ini, lebih baik, berarti upaya pemda dan masyarakat menunjukkan hasil yang signifikan ….


Hmmm. Musim salju. Sedikit lega bahwa baru saja (18.1.2013), saya mendengar kabar berita negeri sosis ini bebas dari banjir. Hanya kawasan Sachsen dan Brandenburg saja yang kena Warnung (red: peringatan datangnya banjir kecil), lain tidak. Wow, hebat, bukankah Jerman memiliki 16 negara bagian? (Bayern, Baden-Württemberg, Rheinland-Pfalz, Hessen, Thüringen, Sachsen, Niedersachsen, Nordrhein-Westfallen, Schleswig-Holstein, Mecklenburg-Vorpommern, Berlin, Hamburg, Bremen, Saarland, Sachsen dan Brandenburg). Kalau dari 16 hanya 2 saja yang ditaksir akan kebanjiran (skala mini), berarti nilainya sudah bagus, sayang tidak ada penghargaan lingkungan bagi kota-kota di negeri sosis ini. Miris, ingat adipura.


Saya tidak tahu perbandingan di Indonesia, dari 33 propinsi, berapa yang kena dan berapa pula yang terhindar. Untung orang tua saya bercerita tidak kebanjiran. Pernah tergenang semata kaki lalu cepat surut, katanya (tiga hari yang lalu kalau tidak salah …).


Bagaimana cara Jerman mencintai lingkungannya?

Menyelamatkan lingkungan tak hanya dari doa dan rencana saja. Harus ada usaha yang dilakukan beberapa pihak (termasuk dari diri sendiri, dari rakyat bukan hanya dari pemerintah saja). Nah, banyak hal yang telah dibangun pemda dan diikuti atau dilakukan masyarakatnya.


    1. Sampah biasa

Di setiap rumah setidaknya ada 4 tong sampah (biru bertutup biru untuk kertas, hitam bertutup kuning untuk plastik, coklat bertutup coklat untuk bio dan hitam bertutup hitam untuk sampah segala. Tambahannya adalah tong hitam bertutup oranye untuk pembalut anak-anak/pembalut lansia. Pembayarannya per tahun, pengambilan sampah dijadwalkan hari senin (plastik), selasa (kertas), rabu (bio) dan Kamis (segala), misalnya.


Kalau di kampung tempat saya dibesarkan, mungkin saja orang masih bingung kemana harus membuang sampah (yang banyak). Sudah gitu ada sampah, tongnya raib dicuri. Atau terlalu kecil jadi berserakan tumpah dan jatuh ke selokan (bikin mampet gorong-gorong), pemilahan jenisnya rancu (dirumah dibagi-bagi, di TPA dicampur jua) ….


    2. Sampah besar

Waktu suami saya masih kecil dan sering diajak jalan-jalan ke hutan oleh kakek, biasa menemukan sampah seperti mobil tua, sepeda, ban, kursi dan sebagainya. Ini tak ubahnya tahun 2012 lalu di Hungaria, kami puter-puter naik kereta kuda ke hutan, pemandangannya adalah hutan hijau dan … warna putih, lho, itu kan tumpukan kulkas!!!

Untung saja, sekarang, Jerman sudah rapi pembuangan sampah besar ini. Bayangkan kalau harus membuang kasur yang sudah berjamur, TV besar tapi rusak ….


Di Indonesia mungkin di kali, di sini tidak boleh. Tidak dipungut biaya, kok, asal memberitahu perusahaan yang ditunjuk, lewat email (mengisi data pribadi dan data barang apa saja yang akan dibuang). Selanjutnya perusahaan akan menghubungi balik dengan melampirkan kapan tanggal pengambilan barang yang harus diletakkan didepan rumah, bagian yang terlihat dan bisa dijangkau truk pengangkut.


    3. Penebangan pohon dengan ijin

Menebang pohon ada SIM nya. Kursusnya tiga hari, bersertifikat (cara memotong yang baik dan benar, safety (helm, jaket dan celana pengaman) dan P3K, serta penggunaan dan pemeliharaan alat-alat tebang elektronik). Kalau tidak salah seharga 125 euro.

Menebang pohon di hutan membutuhkan ijin pemda. Biasanya ada sistem lelang untuk Reisverschlag (baik yang belum dipotong atau sudah dipotongkan oleh petugas pemda, dari ukuran kecil sampai besar). Harganya beragam mulai 15 euro sampai dengan 500 euro (12 meter). Uang ditransfer lewat rekening dan bukti pembayaran serta pembelian kayu harus dibawa sebagai pegangan saat memotong/mengambilnya.


Petugas hutan itu yang mengatur pohon mana yang harus ditebang dan tidak dan seterusnya, demi terjaganya hutan. Iapun sering kontrol di hari-hari tertentu.


Kalau di Indonesia … bisa jadi masih rawan pencurian kayu di hutan, penebangan ilegal dan kasus sejenisnya.


    4. Perbaikan dan pembersihan gorong-gorong

Program ini biasanya tidak hanya dilakukan setahun sekali. Mobil besar, beberapa pekerja, tanda palang atau peringatan ada perbaikan. Sebuah diorama yang unik. Musim panas lalu, ada perbaikan saluran di tengah-tengah jalan yang bertutup bundaran besi itu, di gang bawah. Minggu ini, proyeknya sudah sampai di gang sebelah. Mau motret kok lupa bawa HP, takut kedinginan salju, hehe.


Gorong-gorong Jerman saya lihat besar. Karena kami didaerah yang tinggi, suara percikan air yang mengalir di dalamnya amat deras dan lancar. Mungkin karena air selalu mencari tempat yang rendah, mungkin air tidak tersumbat … lancarrrrr.


    5. Sumur/gentong tadah hujan dan berkebun

Beberapa orang yang memiliki rumah dengan desain lama seperti rumah kami, masih memiliki sumur tadah hujan yang merupakan aliran dari pralon atap rumah. Karena saya suka berkebun, suami menambah dengan tiga gentong besar untuk menyirap tanaman. 


Berkebun sendiri merupakan hobi sebagian besar orang Jerman yang tinggal bukan di pusat kota. Lahan rumah yang luas pastilah lebih mampu menyerap air hujan atau lelehan dari salju kena sinar matahari.


    6. Tidak membakar sesuatu sembarangan

Pengetahuan tidak membakar plastik atau kayu yang memiliki bahan aktif perusak ozon (seperti kayu dari bahan bangunan rumah, kata Kaminfeger) wajib dimengerti mereka yang memiliki oven pemanas ruangan (baik besar maupun kecil).


    7. Budaya wandern

Wandern atau berjalan kaki di tempat terbuka, sudah menjadi tradisi turun temurun. Suami saya sering bercerita betapa dahulu kekeluargaan amat terasa. Dimana kakek neneknya dikelilingi anak-anak dan para cucu. Sesekali di hutan, sebentar ke pegunungan. Selain menghirup udara segar, menyegarkan otak, melestarikan persaudaraan, melatih otot kaki, juga sejenak meredam asap motor.


Apa usulan Jerman pada dunia yang selalu kebanjiran?

Michael Palomino (keturunan Jerman, lahir di Swiss), pemerhati sosial dan lingkungan dunia itu mengamati situasi banjir yang terjadi dari waktu ke waktu. Ia mengusulkan beberapa gagasan yang bisa dimengerti untuk keselamatan alam di masa mendatang:


    1. Penyelamatan hutan seisinya.


  2. Pelarangan pembangunan bantaran sungai untuk perumahan atau pabrik.


Ini tak ubahnya kota Tuttlingen yang meruntuhkan perumahan dan pabrik/toko lama di bantaran sungai Donau menjadi sebuah taman hijau! Ini benar mengurangi banjir yang 30 tahunan yang lalu masih jadi langganan.


   3. Pembangunan rumah tak lebih dari 8 lantai baik di dataran biasa atau pegunungan.


    4. Penekanan pembangunan jalan dan gedung.


   5. Jalan tol sebaiknya tidak diperbanyak, sekalipun ada pembangunan, mencontoh Belanda yang memiliki banyak jalur sepeda. Apalagi ditambah dengan jalur hijau disekitarnya.


   6. Tinggalkan rumah kaca dengan memanfaatkan energi angin, panas bumi dan matahari yang dapat diperbarui, demi mengurangi efek gas yang berbahaya bagi atmosfir bumi.


Dipikir-pikir … usulannya bisa menjadi langkah antisipasi yang baik. Lebih baik mencegah daripada mengobati atau … sedia payung sebelum hujan. Bresss! (G76)

http://www.kompasiana.com/gaganawati 


Sumber:

    1. Pengalaman pribadi

  2. “DIE HÖLLE IST DA - und alle schauen zu“ (red: Ozon telah berlubang, orang tak bisa berbuat apa-apa …)
Free Music Sites
Free Music Online

free music at divine-music.info