Banjir
juga guru bagi kami, karena dari dialah warga kampung kami belajar
menahan marah, egois dan merangsang tumbuhnya tenggang rasa, bergotong
royong bahu membahu membuat tanggul, membersihkan lumpur dan berbagi
makanan, pendeknya rasa saling peduli jauh lebih besar dibanding sebelum
kedatangannya. Banjir juga telah menyadarkan kami bagaimanapun air
adalah makhluk Allah yang punya hak mendapat tempat/hunian untuk
istirahat sebagaimana manusia, Sedang jalan menuju peristirahatannya
kami rampas, kami tutup karena keserakahan kami sebagai manusia. Sejak
itu kami mesti berpikir beribu kali bila menebang pohon, membuang sampah
dan lebih memperhatikan ruang geraknya.
Subhanallah, tak satupun yang tercipta dari tanganNya tak bernilai manfaat.
Menerima segala yang dianugerahkan kepada hambaNya sebagai nikmat, terasa sangat membahgiakan, menentramkan.
Tapi
bagaimanapun, banjir tetaplah bencana. Ia telah membuat kami sedih dan
sangat repot. Lumpur tebal mengendap di mana-mana. Perkakas rumah, buku,
pakaian semua berantakan, pindah tempat yang tidak semestinya. Betapa
repot dan paniknya menyelamatkan itu semua. Belum lagi memikirkan di
mana nanti kami merebahkan diri untuk beristirahat.
Pagar Hijau Menyelamatkan Rumah Kami
Januari
2007 saat paling bersejarah bagi keluarga kami. Saat itu hampir setiap
hari turun hujan dan banjir bisa dipastikan selalu datang menyertainya.
Suatu pagi ketika rumah dalam keadaan kosong tak berpenghuni karena aku,
suami dan anak-anak berada di sekolah, aku ditelepon salah seorang
saudara yang juga tetangga dekat memberitakan ada banjir besar, kali
penuh dan tanggul di sebelah timur rumah sudah retak nyaris jebol.
Reflek bulu kudukku berdiri, terbayang apa yang segera terjadi. Waktu
itu suami baru saja mendatangkan material untuk merenovasi rumah.
Timbunan pasir, tumpukan semen dan genting untuk mengganti total atap
yang selama ini bocor karena kualitas genteng yang buruk.
Seakan
berlomba kami ingin lebih cepat sampai di rumah. Motor aku titipkan di
rumah penduduk yang berada di tempat yang lebih tinggi yang tidak
disambangi banjir lalu berjalan “ngrubyuk” sesekali berlari menuju
rumah. Saat itu tiba-tiba air mataku meleleh, rumahku diserang air dari
arah depan/ jalan raya dan samping timur dari arah sungai. Miris sekali
aku melihatnya. Kondisi rumahku yang kecil dan sederhana membuatku
berkecil hati untuk bisa bertahan dari gempuran arus air yang sangat
deras. Saking derasnya disertai gemuruh yang memilukan. Aku menelepon
pihak sekolah agar anakku diijinkan untuk tetap tinggal sampai banjir
reda. Yang paling menyedihkan tumpukan genting yang semula tertata rapi
berantakan dan banyak sekali yang pecah terbawa arus. Belum lagi pasir
dan semen yang terendam air.“Sudahlah diikhlaskan saja,” kata suamiku.
Arus
makin deras menggerus pondasi rumah bagian samping timur, membentuk
kubangan yang dalam. Untungnya kami membuat pagar hijau dari tanaman
sebangsa serut yang mengelilingi rumah sebagai pembatas jalan. Kami
menatanya membentuk pagar hijau yang asri dan memotongnya secara berkala
agar rapih dan indah. Dari sinilah kebesaran Allah nampak, betapa
ciptaanNya jauh lebih kuat dan layak dijadikan penahan erosi dibanding
beton buatan manusia, subhanallah.
Di seberang jalan menuju rumahku ada bangunan show room kerajinan
tenun ikat terbesar yang hampir setiap hari tak pernah sepi pengunjung
baik domestik maupun asing, yang bangunannya super kokoh dan megah
longsor,ambles seakan tersedot bumi dan barang-barang dagangan yang
berupa kain tenun itu berhambuaran ke sungai.
sejak itu, pengerukan sungai dilaksanakn dan kesadaran warga
menata lingkungan, membuatkan got-got untuk mengalirkan air ke tempat
yang lebih rendah/ ke hulu, banjir tak datang lagi. Alhamdulillah, tidak
ada lagi kerja berat membersihkan lumpur setebal 3 cm, tak terdengar
warga kampung mengeluh benang dan kainnya terendam air hingga produksi
kain tetap lancar dan para karyawan tidak kehilangan pekerjaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar