Minggu, 20 Januari 2013

Pagar Hijau Penyelamat Rumahku Dari Terjangan Banjir

Banjir sebenarnya bukan barang baru bagi kami, penduduk dataran rendah (baca lembah). Bahkan bisa dibilang tamu langganan yang hampir pasti datang di musim hujan. Kehadirannya memang tidak kami inginkan.Tapi karena ia memaksa tetap datang dan makin lebih sering, maka kami berbalik makin bersahabat dengannya. Bagaimana kami bisa menolaknya? Kedatangannya selalu dengan permisi, memberi salam dengan suara gemuruh yang mendebarkan, menyapa dengan rintikan hujan bahkan kadang disertai geluduk yang menggelegar. Bagaimana kami tak bersahabat dengannya? Nyatanya telah membuat anak-anak di kampung kami bersuka ria bermain dengannya. Menghibur penduduk dari kampung lain yang berbondong-bondong datang menonton atau  berwisata. Seolah penderitaan kami adalah kebahagiaan mereka.
Banjir juga guru bagi kami, karena dari dialah warga kampung kami belajar menahan  marah, egois dan merangsang tumbuhnya tenggang rasa, bergotong royong bahu membahu membuat tanggul, membersihkan lumpur dan berbagi makanan, pendeknya rasa saling peduli jauh lebih besar dibanding sebelum kedatangannya. Banjir juga telah menyadarkan kami bagaimanapun air adalah makhluk Allah yang punya hak mendapat tempat/hunian untuk istirahat sebagaimana manusia, Sedang jalan menuju peristirahatannya kami rampas, kami tutup karena keserakahan kami  sebagai manusia. Sejak itu kami mesti berpikir beribu kali bila menebang pohon, membuang sampah dan lebih memperhatikan ruang geraknya.
Subhanallah, tak satupun yang tercipta dari tanganNya tak bernilai manfaat. 

Menerima segala yang dianugerahkan kepada hambaNya sebagai nikmat, terasa sangat membahgiakan, menentramkan.

Tapi bagaimanapun, banjir tetaplah bencana. Ia telah membuat kami sedih dan sangat repot. Lumpur tebal mengendap di mana-mana. Perkakas rumah, buku, pakaian semua berantakan, pindah tempat yang tidak semestinya. Betapa repot dan paniknya menyelamatkan itu semua. Belum lagi memikirkan di mana nanti kami merebahkan diri untuk beristirahat.

Pagar Hijau Menyelamatkan Rumah Kami
Januari 2007 saat paling bersejarah bagi keluarga kami. Saat itu hampir setiap hari turun hujan dan banjir bisa dipastikan selalu datang menyertainya. Suatu pagi ketika rumah dalam keadaan kosong tak berpenghuni karena aku, suami dan anak-anak berada di sekolah, aku ditelepon salah seorang saudara yang juga tetangga dekat  memberitakan ada banjir besar, kali penuh dan tanggul di sebelah timur rumah sudah retak nyaris jebol. Reflek bulu kudukku berdiri, terbayang apa yang segera terjadi. Waktu itu suami baru saja mendatangkan material untuk merenovasi rumah. Timbunan pasir, tumpukan semen dan genting untuk mengganti total atap yang selama ini bocor karena kualitas genteng yang buruk.

Seakan berlomba kami ingin lebih cepat sampai di rumah. Motor aku titipkan di rumah penduduk yang berada di tempat yang lebih tinggi yang tidak disambangi banjir lalu berjalan “ngrubyuk” sesekali berlari menuju rumah. Saat itu tiba-tiba air mataku meleleh, rumahku diserang air dari arah depan/ jalan raya dan samping timur dari arah sungai. Miris sekali aku melihatnya. Kondisi rumahku yang kecil dan sederhana membuatku berkecil hati untuk bisa bertahan dari gempuran arus air yang sangat deras. Saking derasnya disertai gemuruh yang memilukan. Aku menelepon pihak sekolah agar anakku diijinkan untuk tetap tinggal sampai banjir reda. Yang paling menyedihkan tumpukan genting yang semula tertata rapi berantakan dan banyak sekali yang pecah terbawa arus. Belum lagi pasir dan semen yang terendam air.“Sudahlah diikhlaskan saja,” kata suamiku. 

Arus makin deras menggerus pondasi rumah bagian samping timur, membentuk kubangan yang dalam. Untungnya kami membuat pagar hijau dari tanaman sebangsa serut yang mengelilingi rumah sebagai pembatas jalan. Kami menatanya membentuk pagar hijau yang asri dan memotongnya secara berkala agar rapih dan indah. Dari sinilah kebesaran Allah nampak, betapa ciptaanNya jauh lebih kuat dan layak dijadikan penahan erosi dibanding beton buatan manusia, subhanallah.

Di seberang jalan menuju rumahku ada bangunan show room kerajinan tenun ikat terbesar yang hampir setiap hari tak pernah sepi pengunjung baik domestik maupun asing, yang bangunannya super kokoh dan megah longsor,ambles seakan tersedot bumi dan barang-barang  dagangan yang berupa kain tenun itu berhambuaran ke sungai.

sejak itu, pengerukan sungai dilaksanakn dan kesadaran warga menata lingkungan, membuatkan got-got untuk mengalirkan air ke tempat yang lebih rendah/ ke hulu, banjir tak datang lagi. Alhamdulillah, tidak ada lagi kerja berat membersihkan lumpur setebal 3 cm, tak terdengar warga kampung mengeluh benang dan kainnya terendam air hingga produksi kain tetap lancar dan para karyawan tidak kehilangan pekerjaannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar