Sudah beberapa hari terakhir Jakarta diterjang banjir, ketinggian
banjir pun mulai dari sedengkul hingga mencapai dua meter. Korban juga
tampak mulai berjatuhan, ada yang meninggal. Masyarakat dan tim SAR
telah bahu membahu mengevakuasi warga, tapi ada yang sangat saya
sayangkan disini, sungguh begitu mengganjal ketika sebagian masyarakat
malah sibuk saling menyalahkan, padahal banjir adalah salah kita
bersama. Belum lagi kecaman yang ditujukan pada Gubernur DKI yang baru
saja dilantik pada tanggal 15 Oktober 2012, bapak Joko Widodo atau yang
akrab dipanggil bapak Jokowi. Saya bukan salah satu tim sukses Jokowi,
bukan pula pendukung fanatik. Tapi mari belajar menggunakan logika,
beliau baru saja terpilih dan menjabat sekitar 3 bulan setelah dilantik,
perubahan untuk membenahi sesuatu yang telah lama rusak akibat
kesalahan yang dilakukan berkesinambungan itu bukan seperti membalikkan
telapak tangan, beliau bukan Tuhan, belum lagi budaya organisasi yang
terlanjur buruk di negeri ini, suap merajalela untuk melancarkan urusan,
masa jabatan 3 bulan itu masih belum cukup untuk dipertanggungjawabkan
atas bencana banjir yang melanda ibukota.
Mari kita ulas sekilas permasalahan ibukota ini, secara teori air selalu
mengalir ke daerah yang lebih rendah, dari hulu menuju hilir. Banjir
yang melanda Jakarta disebut-sebut sebagai kiriman air dari Bogor, kita
sebut saja Bogor sebagai hulunya. Di musim penghujan seperti sekarang
ini seperti yang kita ketahui akan meningkatkan jumlah debit air, hujan
yang turun butuh daerah resapan agar jumlah yang mengalir menuju hilir
berkurang jumlahnya, sedangkan daerah resapan di Bogor mulai berkurang
drastis, daerah puncak sana telah banyak dibangun bangunan permanen yang
tentu saja menyebabkan air tak dapat meresap dengan sempurna ke dalam
tanah. Harusnya pemerintah mulai menata ulang perizinan pembangunan
villa ini, selain itu pemerintah harus segera mencari cara membangun
daerah resapan air agar jumlah air yang turun tidak sepenuhnya dikirim
ke Jakarta. Selanjutnya di Jakarta, kita ketahui bahwa sungai-sungai di
ibukota ini sudah sejak lama mengalami pendangkalan, salah satu penyebab
signifikannnya adalah sampah yang telah menumpuk, salah siapa? Salah
kita, sudah sejak lama kita tidak mempedulikan lingkungan. Pemerintah
butuh waktu untuk melakukan pengerukan di sungai-sungai ini, dan bukan
lah pekerjaan mudah memperbaiki itu semua, meskipun banjir kanal telah
dibuat, tapi nyatanya para ahli beranggapan bahwa banjir kanal bukan
solusi menghilangkan banjir selamanya, dan sudah kita lihat buktinya
sendiri hari ini.
Itu masih masalah dari sungai, jika kita lihat di ibukota, jumlah
resapan air sudah hampir hilang berganti bangunan pencakar langit. Saya
pernah baca, kondisi topografi Jakarta saat ini adalah berbentuk
cekungan, jadi wajar saja jika air terkurung ditengah dan sulit mengalir
menuju hilir. Solusinya adalah, perbesar selokan bawah tanah, lakukan
pula pengerukan sampah yang terlanjur menimbun selokan tersebut. Ya,
lagi-lagi sampah, saya sangat setuju jika DPR membuat UU mengenai buang
sampah sembarangan. Oke, kembali ke selokan bawah tanah, saya juga
pernah membaca, selokan bawah tanah di Jepang itu ukurannya lebih tinggi
dari orang dewasa, itu berarti diameternya mencapai kurang lebih 2
meter. Darimana Indonesia membiayai pembangunan itu semua, sedangkan
hutang kita pada luar negeri masih banyak? Makanya, ambil kembali uang
negeri ini yang telah mereka-mereka curi hanya untuk memperkaya diri.
Ini yang terjadi malah korupsi berpuluh miliar dan hanya dihukum
beberapa tahun penjara, tanpa penyitaan aset, dan belum lagi nanti grasi
yang diberikan oleh ah sudahlah.
Itulah sebagian kecil dari kesalahan kita bersama, itulah sebagian bakal
calon musibah yang sebenarnya telah kita undang sendiri kedatangannya.
Memang masih banyak yang perlu dibenahi dari negeri ini, termasuk diri
kita sendiri yang terbiasa menyalahkan orang lain, bukan berkaca pada
diri sendiri, ironi memang.
Dan kembali ke hujatan pada bapak Jokowi, menurut kacamata awam saya
yang tidak paham politik, beliau telah memulai melakukan pekerjaanya
dengan baik, beliau turun ke masyarakat untuk mengetahui kondisi rakyat,
meskipun sebagian pihak mencurigai ini sebagai bagian dari pencitraan
untuk mendongkrak popularitas menjelang pemilihan presiden 2014, beliau
disebut-sebut akan dipinang sebagai wakil presiden untuk mendampingi
salah satu tokoh yang akan mencalonkan diri menjadi presiden, semoga
saja tidak, saya harap beliau menjalankan amanah yang telah diberikan
rakyat ini terlebih dahulu. Mari beri kesempatan untuk bapak Jokowi
merealisasikan janji-janjinya sewaktu kampanya, kita dukung dan kita
awasi, bekerjasama lah jangan hanya berkomentar, mari kita benahi negeri
ini jika kalian memang PEDULI.
http://www.kompasiana.com/richsan
free music at divine-music.info
Tidak ada komentar:
Posting Komentar