Selamat Pagi. Saya
memang sedang tak mengalami musibah banjir dengan kondisi darurat
seperti yang sedang menimpa saudara-saudara di ibu kota atau mungkin
daerah lain di Nusantara. Sebagian dari kita mungkin juga demikian,
masih lebih beruntung dari warga Jakarta. Namun demikian hati ini pasti
iba, sedih dengan kondisi warga ibukota yang terpaksa mengungsi, sakit
dan terganggu aktivitasnya akibat banjir yang merendam Jakarta.
Menyaksikan perkembangannya dari timeline
media sosial dan berita televisi kita bisa sedikit membayangkan betapa
tak enaknya kehidupan saudara-saudara yang saat ini dikepung banjir di
ibu kota. Namun ada juga rasa salut dan bangga kepada orang-orang yang
selalu bisa memberikan kepeduliaanya untuk menyisihkan waktu dan tenaga
membantu sesama korban, memantikkan semangat optimisme warga di tengah
bencana. Saya pun kembali teringat dengan apa yang saya dan kawan-kawan
dulu alami di lapangan bersama ribuan pengungsi erupsi Merapi. Tak enak
memang menjalani hari dalam keterbatasan di tengah bencana, namun
letupan optimisme dari satu orang sangat berarti besar dan bisa menular
dengan cepat di tengah sesama yang merasakan derita. Hal ini pasti juga
ada di banyak tempat pengungsian banjir di Jakarta saat ini.
Sayangnya semangat
dan optimisme menghadapi bencana seringkali dikaburkan dengan model
berita di sejumlah media terutama televisi. Berita-berita yang
bertubi-tubi ditayangkan, momen kesedihan yang berulang ditayangkan,
persaingan hot news antar televisi tertentu hingga aksi reporter
lapangan beserta reportasenya yang kadang tak mengerti kondisi dan
suasana kebatinan korban bencana. Hal ini semakin terasa ketika narasi
dan ilustrasi yang disampaikan oleh pembawa berita cenderung menonjolkan
sisi menyeramkan dari sebuah bencana. Memang banjir ibukota selalu
menjadi bencana yang tak diharapkan dan ditakutkan oleh warga. Tapi tak
bisakah berita itu dikemas secara lebih elegan dan proporsional?.
Bencana
rasanya menjadi saat di mana sejumlah stasiun TV berita berlomba-lomba
menunjukkan diri sebagai yang tercepat dan jika perlu “terdekat” dengan
bencana. Ada yang mengemasnya sebagai berita 4 jam non stop, ada yang
menyampaikannya dalam breaking news kejar tayang, ada juga yang membuat
reportase khusus langsung dari tempat banjir terparah dan tempat
pengungsian.
Bukan sesuatu
yang keliru. Informasi berita itu memang diperlukan sebagai bagian dari
kewaspadaan dalam menghadapi banjir. Masih banyak juga informasi
berguna yang disampaikan oleh stasiun TV terkait bencana banjir. Namun
sayang, persaingan seringkali membuat sejumlah program berita menjadi
lebay dan lebih banyak mengabarkan kekhawatiran dibanding mencoba
memberikan informasi komprehensif yang lebih penting seperti pengungsian
dan kebutuhan pengungsi. Beberapa berita itu telah menyisihkan sisi
optimisme dalam menghadapi bencana.
TV Berita pun
berubah menjadi TV Bencana. Ada reportase yang kritis bahkan terlampau
kritis menilai kinerja pejabat dulu dan sekarang. Ada yang
mengeksploitasi banjir kiriman dari puncak dan Bogor sebagai penyebab
banjir besar Ibukota. Tanpa sadar banyak orang Bogor yang keberatan
disebut sebagai pengirim banjir Ibukota.
Sejumlah
berita sibuk bertanya siapakah pihak yang harus disalahkan ?. Tentu
banjir ini adalah dampak dari sebuah kesalahan. Dan semua orang
sebenarnya sudah tahu siapa dan apa penyebab utama banjir ini, di
samping faktor geologi kondisi alamiah Jakarta yang memang merupakan
sebuah paparan dengan tanah yang mudah turun. Dan faktor ini diperparah
oleh banyak hal yang sebenarnya datang dari kesalahan manusia. Namun
sayangnya saat bencana tiba, semua seakan lupa dan stasiun TV pun
pura-pura tidak tahu dengan selalu memancing tanya siapa dan apa yang
harus disalahkan ?. Kesalahan memang harus dicari dan dituntaskan. Tapi
mempermasalahkan kesalahan di tengah bencana rasanya tidak menjadi
bagian dari solusi utama.
Ada sebuah
kicauan di twitter kemarin yang menarik tentang pandangan mengenai
program berita di sejumlah TV saat ini tak ubahnya sinetron stripping
yang dikejar rating. Sinetron yang kadang menambahkan bumbu-bumbu guna
mendramatisir berita.
Program
berita pun menjadi semakin kreatif di tengah bencana. Segala hal yang
bisa diangkat kemudian dikritisi. Bahkan hal-hal yang tidak urgen di
tengah bencana menjadi tampak penting di mata mereka. Di TV One kemarin
malam misalnya, saya tak habis fikir sebuah dialog justru sibuk
mempermasalahkan foto SBY yang bergaya kasual mengangkat celana
panjangnya saat istana terendam banjir. Berbagai spekulasi
diperbincangkan hingga usil mengaitkan hal itu sebagai upaya yang
disengaja sebagai bagian dari pencintraan. Sidak lapangan presiden
dengan perahu karet pun dibandingkan dengan blusukan Jokowi menggunakan
gerobak.
Semuanya kembali dikaitkan dengan perlombaan meraih simpati dan
membentuk citra. Terlepas dari benar atau tidaknya, bahasan ini
menunjukkan bahwa TV berita seringkali menjadi terlalu kreatif di tengah
bencana.
Masalah tak
hanya itu saja. Reporter lapangan yang kerap menggunakan bahasa kurang
proporsional dengan intonasi berapi-api juga membuat kerut di dahi. Tak
bisakah mereka lebih cerdas dalam menyampaikan berita ?. Tak dipungkiri
kita sering menyaksikan reportase bencana dibawakan oleh reporter yang
sok tahu dengan sering mengambil kesimpulan yang terlalu cepat. Kita
mungkin masih ingat sebuah kasus yang terjadi saat erupsi Merapi lalu.
Sejumlah stasiun TV dihujat karena reporter lapangannya yang lebay
menyiarkan kondisi bencana yang bahkan membuat kami di lapangan dan
warga di pengungsian bingung sendiri. Dan kini hal itu masih terjadi,
narasi bernada nyinyir menghiasi beberapa berita banjir.
Narasi dan
ilustrasi berita yang kerap digunakan oleh beberapa TV nasional rasanya
perlu dikritisi. Narasi menyeramkan dengan intonasi kadar tinggi,
ilustrasi musik layaknya film horor dan lagu tema kesedihan yang
menyertai berita-berita itu. Tak bisakah reportase video menggunakan
lagu-lagu lain yang membangkitkan optimisme menghadapi bencana. Mengapa
harus selalu lagu Ebiet yang menyedihkan itu ?. Tentu itu lagu bagus,
tapi kadang bukan pada tempatnya lagi lagu itu selalu diperdengarkan di
tengah warga yang sedang berusaha berjuang menghadapi bencana. Sejumlah
pertanyaan salah tempat dan salah kondisi juga kerap diajukan oleh
reporter lapangan. Tanpa disadari pertanyaan itu telah memancing
pesimisme korban bencana. Disadari atau tidak pertanyaan itu membuat
pengungsi yang awalnya tabah menjadi mengeluh.
“Mengapa Ibu mau mengungsi di tempat ini yang kurang nyaman ?”.
“Keluhan apa yang ingin Bapak sampaikan kepada pejabat di Jakarta ?”
Pertanyaan di
atas kerap sekali diajukan oleh reporter, seakan wajar meski boleh jadi
kurang layak dimunculkan di tengah bencana.
Memang
bencana selalu membawa nestapa. Tapi di tengah bencana, berita TV
seharusnya menyertakan letupan optimisme untuk memelihara semangat warga
menghadapi bencana, bukan justru merusak suasana.
Banjir Yang
Memalukan. Itulah topik editorial pagi Metro TV hari ini. Semoga berita
di Indonesia tak hanya tentang hal yang memalukan. Dan semoga TV
Nasional tak sampai mempermalukan dirinya sendiri. Dan jangan sampai
media tanah air mempermalukan bangsanya sendiri.
Menyalahkan
alam sama saja kita mengingkari keberadaan pikiran manusia. Menyebut
banjir sebagai sebuah fenomena alam juga bukan hal yang cerdas.
Mengungkit-ungkit kesalahan lama hanya membuat Jakarta tak beranjak ke
solusi utama. TV Nasional perlu tampil cerdas dan inspiratif di tengah
bencana.
Semua adalah
pilihan. Semoga kali ini Ibukota memilih untuk berbenah dan semoga
banjir itu lekas reda. Berbenahlah Jakarta, daya dukungmu memang sudah
terlewati.
http://www.kompasiana.com/wardhanahendra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar