Minggu, 20 Januari 2013

Saat TV Berita Jadi TV Bencana, Nyinyir di Kala Banjir

13584767651348327588
Selamat Pagi. Saya memang sedang tak mengalami musibah banjir dengan kondisi darurat seperti yang sedang menimpa saudara-saudara di ibu kota atau mungkin daerah lain di Nusantara. Sebagian dari kita mungkin juga demikian, masih lebih beruntung dari warga Jakarta. Namun demikian hati ini pasti iba, sedih dengan kondisi warga ibukota yang terpaksa mengungsi, sakit dan terganggu aktivitasnya akibat banjir yang merendam Jakarta.

Menyaksikan perkembangannya dari timeline media sosial dan berita televisi kita bisa sedikit membayangkan betapa tak enaknya kehidupan saudara-saudara yang saat ini dikepung banjir di ibu kota. Namun ada juga rasa salut dan bangga kepada orang-orang yang selalu bisa memberikan kepeduliaanya untuk menyisihkan waktu dan tenaga membantu sesama korban, memantikkan semangat optimisme warga di tengah bencana. Saya pun kembali teringat dengan apa yang saya dan kawan-kawan dulu alami di lapangan bersama ribuan pengungsi erupsi Merapi. Tak enak memang menjalani hari dalam keterbatasan di tengah bencana, namun letupan optimisme dari satu orang sangat berarti besar dan bisa menular dengan cepat di tengah sesama yang merasakan derita. Hal ini pasti juga ada di banyak tempat pengungsian banjir di Jakarta saat ini.

Sayangnya semangat dan optimisme menghadapi bencana seringkali dikaburkan dengan model berita di sejumlah media terutama televisi. Berita-berita yang bertubi-tubi ditayangkan, momen kesedihan yang berulang ditayangkan, persaingan hot news antar televisi tertentu hingga aksi reporter lapangan beserta reportasenya yang kadang tak mengerti kondisi dan suasana kebatinan korban bencana. Hal ini semakin terasa ketika narasi dan ilustrasi yang disampaikan oleh pembawa berita cenderung menonjolkan sisi menyeramkan dari sebuah bencana. Memang banjir ibukota selalu menjadi bencana yang tak diharapkan dan ditakutkan oleh warga. Tapi tak bisakah berita itu dikemas secara lebih elegan dan proporsional?.

Bencana rasanya menjadi saat di mana sejumlah stasiun TV berita berlomba-lomba menunjukkan diri sebagai yang tercepat dan jika perlu “terdekat” dengan bencana. Ada yang mengemasnya sebagai berita 4 jam non stop, ada yang menyampaikannya dalam breaking news kejar tayang, ada juga yang membuat reportase khusus langsung dari tempat banjir terparah dan tempat pengungsian.

Bukan sesuatu yang keliru. Informasi berita itu memang diperlukan sebagai bagian dari kewaspadaan dalam menghadapi banjir. Masih banyak juga informasi berguna yang disampaikan oleh stasiun TV terkait bencana banjir. Namun sayang, persaingan  seringkali membuat sejumlah program berita menjadi lebay dan lebih banyak mengabarkan kekhawatiran dibanding mencoba memberikan informasi komprehensif yang lebih penting seperti pengungsian dan kebutuhan pengungsi. Beberapa berita itu telah menyisihkan sisi optimisme dalam menghadapi bencana.

TV Berita pun berubah menjadi TV Bencana. Ada reportase yang kritis bahkan terlampau kritis menilai kinerja pejabat dulu dan sekarang. Ada yang mengeksploitasi banjir kiriman  dari puncak dan Bogor sebagai penyebab banjir besar Ibukota. Tanpa sadar  banyak orang Bogor yang keberatan disebut sebagai pengirim banjir Ibukota.

Sejumlah berita sibuk bertanya siapakah pihak yang harus disalahkan ?. Tentu banjir ini adalah dampak dari sebuah kesalahan. Dan semua orang sebenarnya sudah tahu siapa dan apa penyebab utama banjir ini, di samping faktor geologi kondisi alamiah Jakarta yang memang merupakan sebuah paparan dengan tanah yang mudah turun. Dan faktor ini diperparah oleh banyak hal yang sebenarnya datang dari kesalahan manusia. Namun sayangnya saat bencana tiba, semua seakan lupa dan stasiun TV pun pura-pura tidak tahu dengan selalu memancing tanya siapa dan apa yang harus disalahkan ?. Kesalahan memang harus dicari dan dituntaskan. Tapi mempermasalahkan kesalahan di tengah bencana rasanya tidak menjadi bagian dari solusi utama.

Ada sebuah kicauan di twitter kemarin yang menarik tentang pandangan mengenai program berita di sejumlah TV saat ini tak ubahnya sinetron stripping yang dikejar rating. Sinetron yang kadang menambahkan bumbu-bumbu guna mendramatisir berita. 

Program berita pun menjadi semakin kreatif di tengah bencana. Segala hal yang bisa diangkat kemudian dikritisi. Bahkan hal-hal yang tidak urgen di tengah bencana menjadi tampak penting di mata mereka. Di TV One kemarin malam misalnya, saya tak habis fikir sebuah dialog justru sibuk mempermasalahkan foto SBY yang bergaya kasual mengangkat celana panjangnya saat istana terendam banjir. Berbagai spekulasi diperbincangkan hingga usil mengaitkan hal itu sebagai upaya yang disengaja sebagai bagian dari pencintraan. Sidak lapangan presiden dengan perahu karet pun dibandingkan dengan blusukan Jokowi menggunakan gerobak. 

Semuanya kembali dikaitkan dengan perlombaan meraih simpati dan membentuk citra. Terlepas dari benar atau tidaknya, bahasan ini menunjukkan bahwa TV berita seringkali menjadi terlalu kreatif di tengah bencana.

Masalah tak hanya itu saja. Reporter lapangan yang kerap menggunakan bahasa kurang proporsional dengan intonasi berapi-api juga membuat kerut di dahi. Tak bisakah mereka lebih cerdas dalam menyampaikan berita ?. Tak dipungkiri kita sering menyaksikan reportase bencana dibawakan oleh reporter yang sok tahu dengan sering mengambil kesimpulan yang terlalu cepat. Kita mungkin masih ingat sebuah kasus yang terjadi saat erupsi Merapi lalu. Sejumlah stasiun TV dihujat karena reporter lapangannya yang lebay menyiarkan kondisi bencana yang bahkan membuat kami di lapangan dan warga di pengungsian bingung sendiri. Dan kini hal itu masih terjadi, narasi bernada nyinyir menghiasi beberapa berita  banjir.

Narasi dan ilustrasi berita yang kerap digunakan oleh beberapa TV nasional rasanya perlu dikritisi. Narasi menyeramkan dengan intonasi kadar tinggi, ilustrasi musik layaknya film horor dan lagu tema kesedihan yang menyertai berita-berita itu. Tak bisakah reportase video menggunakan lagu-lagu lain yang membangkitkan optimisme menghadapi bencana. Mengapa harus selalu lagu Ebiet yang menyedihkan itu ?. Tentu itu lagu bagus, tapi kadang bukan pada tempatnya lagi lagu itu selalu diperdengarkan di tengah warga yang sedang berusaha berjuang menghadapi bencana. Sejumlah pertanyaan salah tempat dan salah kondisi juga kerap diajukan oleh reporter lapangan. Tanpa disadari pertanyaan itu telah memancing pesimisme korban bencana. Disadari atau tidak pertanyaan itu membuat pengungsi yang awalnya tabah menjadi mengeluh.

“Mengapa Ibu mau mengungsi di tempat ini yang kurang nyaman ?”.
“Keluhan apa yang ingin Bapak sampaikan kepada pejabat di Jakarta ?”

Pertanyaan di atas kerap sekali diajukan oleh reporter, seakan wajar meski boleh jadi kurang layak dimunculkan di tengah bencana.

Memang bencana selalu membawa nestapa. Tapi di tengah bencana, berita TV seharusnya menyertakan letupan optimisme untuk memelihara semangat warga menghadapi bencana, bukan justru merusak suasana.

Banjir Yang Memalukan. Itulah topik editorial pagi Metro TV hari ini. Semoga berita di Indonesia tak hanya tentang  hal yang memalukan. Dan semoga TV Nasional tak sampai mempermalukan dirinya sendiri. Dan jangan sampai media tanah air mempermalukan bangsanya sendiri.

Menyalahkan alam sama saja kita mengingkari keberadaan pikiran manusia. Menyebut banjir sebagai sebuah fenomena alam juga bukan hal yang cerdas. Mengungkit-ungkit kesalahan lama hanya membuat Jakarta tak beranjak ke solusi utama. TV Nasional perlu tampil cerdas dan inspiratif di tengah bencana. 

Semua adalah pilihan.  Semoga kali ini Ibukota memilih untuk berbenah dan semoga banjir itu lekas reda. Berbenahlah Jakarta, daya dukungmu memang sudah terlewati.

http://www.kompasiana.com/wardhanahendra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar