Komentar plesetannya … mana mungkin? Kan yang turun salju bukan air kayak di Indonesia ….
Bukan
… bukan begitu! Penyebabnya, Jerman punya rahasia. Namanya ramah
lingkungan! Tidak hanya oleh pemerintah, rakyatnya juga … semuanya!
Hujan salju, banjir salju
***
Negeri sebesar AS juga langganan bencana
Sepasang suami istri asli Jerman baru saja mengunjungi kami. Mereka ini bercerita barusan honey moon
di Amerika. Saya yang belum pernah ke negeri besar itu, tertarik,
tanya-tanya pada si wanita, sebut saja, Nicole. Apalagi suaminya lagi gayeng, asyik membicarakan soal perusahaan, dengan suami saya ….
“Nggak ketemu Tornado, kan?” Saya penasaran menanyakan bencana yang selalu datang awal musim panas di negeri pimpinan Obama ini.
“Wah untung, nggak. Memang sengaja agen tur memilihkan tanggal yang tidak riskan sesuai pengalaman terdahulu …” Perempuan berkacamata itu tersenyum, beberapa hari setelah mereka bertolak ke Jerman, bencana memang baru mulai di Amrik. Banjir memang dikatakan sebagian orang Jerman sendiri sebagai kejadian langka di Jerman.
“Syukurlah.
Saya waktu lihat reportase di Amerika itu juga ikut mikir, wah,
kasihan, mana Nicole sama Mark lagi bulan madu disana, gimana ya? Gitu.
Ehhhh sekarang malah barusan Sandy, ya?`“ Kamipun mengulas badai yang namanya cakep tapi ganas itu. Seingat
saya, seorang tetangga yang tinggal di sana dikabarkan meninggal.
Selama di tempat penampungan, ia pernah keluar mengendarai mobil dan
mengalami kecelakaan karambol. Dari beberapa mobil, tidak ada yang
meninggal, kecuali wanita umuran 68 tahun itu. Prihatin.
“Alah,
biasaaa … Amerika, Gana. Waktu kita nyari makan, masih banyak kok
tempat styrofoamnya … lalu sampah wahhh … kotor, berantakan. Nggak kayak
di kita?“.
Kita? Saya kan orang Indonesia yang tinggal di Jerman. Kalau maksudnya
“seperti di Jerman“, saya bisa mengangguk cepat-cepat. Indonesia tidak
lebih baik dari AS soal lingkungan … belum. Kalau Jerman, saya pandang
sudah mengerti, memahami dan mengikuti sekali upaya mencintai dan
melestarikan lingkungan untuk masa depan, Umweltbewusst, bahkan dimulai sejak dini. Lihatlah … anak TK sudah diajari memilah sampah bio, kertas dan plastik. Bocah SD sudah tahu bahwa sampah baterei, CD, bolam lampu cs
tidak boleh dibuang sembarangan karena ada tempat khususnya disekolah.
Para remaja sudah tahu bahwa sebelum mereka 17 tahun lebih baik naik
bis, selain ramah lingkungan … lebih murah dan lebih ramai. Ibu-ibu
sudah mahir memilah sampah, hingga tak perlu membakar plastik atau
membuang sampah di kali seperti di nusantara. Bapak-bapaknya taat untuk
mencatatkan sampah besar yang hendak diangkut perusahaan yang
bersangkutan (bukan membuangnya di hutan atau kali, seperti jaman kakek
nenek Jerman, 40 tahunan yang lalu). Semua sudah teratur, ada tempatnya pula (sarana-prasarana lengkap=motivasi).
Hanya dua wilayah Jerman yang diperkirakan banjir kecil
Saya
bukan ahli lingkungan bukan pula orang yang pernah langsung terjun saat
banjir terjadi di Jerman. Saya hanya orang asing yang tinggal di Jerman
dan mengamati iklim negeri yang saya tumpangi ini setidaknya tujuh
tahun terakhir ini.
Bantaran sungai Donau, bebas dari bangunan
Dari keempat musim Jerman, ada sebuah musim yang kadang sering bikin sungai-sungai meluap, musim salju. Kalau
melihat aliran Donau yang cepat (beberapa meter sebelum lingkaran
menuju stasiun KA Tuttlingen, atau disekitar Marktplatz Tuttlingen,
Realschule Hermann Hesse Tuttlingen, atau tempat lain yang dilewati si
Donau ini), saya kadang mak tratab, hati deg-degan. Takut kenter,
terhanyut bersama air yang permukaannya hampir menyamai jalan. Duhhh …
gaya saya kan batu, man.
Stasiun KA Köln
Belum
lagi sungai Rhein yang pernah membuat Köln dan Düsseldorf
cincing-cincing kebanjiran (sekitar natal 2012). Köln sendiri pernah
mengalami banjir sejak 1926, 1993 1995, 2003 hingga 2012. Dua kota tersebut banyak ditanami gedung tinggi, nyakar langit.
Gedung di Düsseldorf
Yup.
Rumah kami ada di ketinggian 700-800 an m diatas permukaan air laut,
dimana gunung di ujung gang ada pada 990 m. Kami tinggal di daerah
Baden-württemberg. Kawasan kota kami dilewati sungai Donau. Sungai
dengan yang mengalir sepanjang 2.860 km ini menjalar hingga Budapest
(Hungaria) dan Viena (Austria). Sebuah legenda alam yang menakjubkan
bukan? Ia tak hanya menjadi simbol energi air, sumber kehidupan dan
tampang lingkungan saja, melainkan sebagai pemersatu negeri-negeri
tetangganya. Sebuah pertempuran sungai ini (dari tiga negara) bisa kita
amati jika menikmati kapal di Passau.
Pertempuran aliran tiga sungai dari tiga negara
Bukti sejarah banjir di Passau
Passau pernah juga banjir,
… terakhir, tahun 2003 (phase III). Melihat dari perkembangan
kebanjiran tahun 1501 (tertinggi), 1595, 1787, 1862, 1895, 1899, 1954,
2002 (terendah) ini, lebih baik, berarti upaya pemda dan masyarakat
menunjukkan hasil yang signifikan ….
Hmmm.
Musim salju. Sedikit lega bahwa baru saja (18.1.2013), saya mendengar
kabar berita negeri sosis ini bebas dari banjir. Hanya kawasan Sachsen
dan Brandenburg saja yang kena Warnung (red: peringatan
datangnya banjir kecil), lain tidak. Wow, hebat, bukankah Jerman
memiliki 16 negara bagian? (Bayern, Baden-Württemberg, Rheinland-Pfalz,
Hessen, Thüringen, Sachsen, Niedersachsen, Nordrhein-Westfallen,
Schleswig-Holstein, Mecklenburg-Vorpommern, Berlin, Hamburg, Bremen,
Saarland, Sachsen dan Brandenburg). Kalau dari 16 hanya 2 saja yang
ditaksir akan kebanjiran (skala mini), berarti nilainya sudah bagus,
sayang tidak ada penghargaan lingkungan bagi kota-kota di negeri sosis
ini. Miris, ingat adipura.
Saya
tidak tahu perbandingan di Indonesia, dari 33 propinsi, berapa yang
kena dan berapa pula yang terhindar. Untung orang tua saya bercerita
tidak kebanjiran. Pernah tergenang semata kaki lalu cepat surut, katanya
(tiga hari yang lalu kalau tidak salah …).
Bagaimana cara Jerman mencintai lingkungannya?
Menyelamatkan
lingkungan tak hanya dari doa dan rencana saja. Harus ada usaha yang
dilakukan beberapa pihak (termasuk dari diri sendiri, dari rakyat bukan
hanya dari pemerintah saja). Nah, banyak hal yang telah dibangun pemda
dan diikuti atau dilakukan masyarakatnya.
1. Sampah biasa
Di
setiap rumah setidaknya ada 4 tong sampah (biru bertutup biru untuk
kertas, hitam bertutup kuning untuk plastik, coklat bertutup coklat
untuk bio dan hitam bertutup hitam untuk sampah segala. Tambahannya
adalah tong hitam bertutup oranye untuk pembalut anak-anak/pembalut
lansia. Pembayarannya per tahun, pengambilan sampah dijadwalkan hari
senin (plastik), selasa (kertas), rabu (bio) dan Kamis (segala),
misalnya.
Kalau
di kampung tempat saya dibesarkan, mungkin saja orang masih bingung
kemana harus membuang sampah (yang banyak). Sudah gitu ada sampah,
tongnya raib dicuri. Atau terlalu kecil jadi berserakan tumpah dan jatuh
ke selokan (bikin mampet gorong-gorong), pemilahan jenisnya rancu
(dirumah dibagi-bagi, di TPA dicampur jua) ….
2. Sampah besar
Waktu
suami saya masih kecil dan sering diajak jalan-jalan ke hutan oleh
kakek, biasa menemukan sampah seperti mobil tua, sepeda, ban, kursi dan
sebagainya. Ini tak ubahnya tahun 2012 lalu di Hungaria, kami
puter-puter naik kereta kuda ke hutan, pemandangannya adalah hutan hijau
dan … warna putih, lho, itu kan tumpukan kulkas!!!
Untung
saja, sekarang, Jerman sudah rapi pembuangan sampah besar ini.
Bayangkan kalau harus membuang kasur yang sudah berjamur, TV besar tapi
rusak ….
Di
Indonesia mungkin di kali, di sini tidak boleh. Tidak dipungut biaya,
kok, asal memberitahu perusahaan yang ditunjuk, lewat email (mengisi
data pribadi dan data barang apa saja yang akan dibuang). Selanjutnya
perusahaan akan menghubungi balik dengan melampirkan kapan tanggal
pengambilan barang yang harus diletakkan didepan rumah, bagian yang
terlihat dan bisa dijangkau truk pengangkut.
3. Penebangan pohon dengan ijin
Menebang
pohon ada SIM nya. Kursusnya tiga hari, bersertifikat (cara memotong
yang baik dan benar, safety (helm, jaket dan celana pengaman) dan P3K,
serta penggunaan dan pemeliharaan alat-alat tebang elektronik). Kalau
tidak salah seharga 125 euro.
Menebang pohon di hutan membutuhkan ijin pemda. Biasanya ada sistem lelang untuk Reisverschlag
(baik yang belum dipotong atau sudah dipotongkan oleh petugas pemda,
dari ukuran kecil sampai besar). Harganya beragam mulai 15 euro sampai
dengan 500 euro (12 meter). Uang ditransfer lewat rekening dan bukti
pembayaran serta pembelian kayu harus dibawa sebagai pegangan saat
memotong/mengambilnya.
Petugas
hutan itu yang mengatur pohon mana yang harus ditebang dan tidak dan
seterusnya, demi terjaganya hutan. Iapun sering kontrol di hari-hari
tertentu.
Kalau di Indonesia … bisa jadi masih rawan pencurian kayu di hutan, penebangan ilegal dan kasus sejenisnya.
4. Perbaikan dan pembersihan gorong-gorong
Program
ini biasanya tidak hanya dilakukan setahun sekali. Mobil besar,
beberapa pekerja, tanda palang atau peringatan ada perbaikan. Sebuah
diorama yang unik. Musim panas lalu, ada perbaikan saluran di
tengah-tengah jalan yang bertutup bundaran besi itu, di gang bawah.
Minggu ini, proyeknya sudah sampai di gang sebelah. Mau motret kok lupa
bawa HP, takut kedinginan salju, hehe.
Gorong-gorong
Jerman saya lihat besar. Karena kami didaerah yang tinggi, suara
percikan air yang mengalir di dalamnya amat deras dan lancar. Mungkin karena air selalu mencari tempat yang rendah, mungkin air tidak tersumbat … lancarrrrr.
5. Sumur/gentong tadah hujan dan berkebun
Beberapa
orang yang memiliki rumah dengan desain lama seperti rumah kami, masih
memiliki sumur tadah hujan yang merupakan aliran dari pralon atap rumah.
Karena saya suka berkebun, suami menambah dengan tiga gentong besar
untuk menyirap tanaman.
Berkebun
sendiri merupakan hobi sebagian besar orang Jerman yang tinggal bukan
di pusat kota. Lahan rumah yang luas pastilah lebih mampu menyerap air
hujan atau lelehan dari salju kena sinar matahari.
6. Tidak membakar sesuatu sembarangan
Pengetahuan
tidak membakar plastik atau kayu yang memiliki bahan aktif perusak ozon
(seperti kayu dari bahan bangunan rumah, kata Kaminfeger) wajib dimengerti mereka yang memiliki oven pemanas ruangan (baik besar maupun kecil).
7. Budaya wandern
Wandern
atau berjalan kaki di tempat terbuka, sudah menjadi tradisi turun
temurun. Suami saya sering bercerita betapa dahulu kekeluargaan amat
terasa. Dimana kakek neneknya dikelilingi anak-anak dan para cucu.
Sesekali di hutan, sebentar ke pegunungan. Selain menghirup udara segar,
menyegarkan otak, melestarikan persaudaraan, melatih otot kaki, juga sejenak meredam asap motor.
Apa usulan Jerman pada dunia yang selalu kebanjiran?
Michael
Palomino (keturunan Jerman, lahir di Swiss), pemerhati sosial dan
lingkungan dunia itu mengamati situasi banjir yang terjadi dari waktu ke
waktu. Ia mengusulkan beberapa gagasan yang bisa dimengerti untuk
keselamatan alam di masa mendatang:
1. Penyelamatan hutan seisinya.
2. Pelarangan pembangunan bantaran sungai untuk perumahan atau pabrik.
Ini
tak ubahnya kota Tuttlingen yang meruntuhkan perumahan dan pabrik/toko
lama di bantaran sungai Donau menjadi sebuah taman hijau! Ini benar
mengurangi banjir yang 30 tahunan yang lalu masih jadi langganan.
3. Pembangunan rumah tak lebih dari 8 lantai baik di dataran biasa atau pegunungan.
4. Penekanan pembangunan jalan dan gedung.
5. Jalan
tol sebaiknya tidak diperbanyak, sekalipun ada pembangunan, mencontoh
Belanda yang memiliki banyak jalur sepeda. Apalagi ditambah dengan jalur
hijau disekitarnya.
6. Tinggalkan
rumah kaca dengan memanfaatkan energi angin, panas bumi dan matahari
yang dapat diperbarui, demi mengurangi efek gas yang berbahaya bagi
atmosfir bumi.
Dipikir-pikir
… usulannya bisa menjadi langkah antisipasi yang baik. Lebih baik
mencegah daripada mengobati atau … sedia payung sebelum hujan. Bresss!
(G76)
http://www.kompasiana.com/gaganawati
Sumber:
1. Pengalaman pribadi
2. “DIE HÖLLE IST DA - und alle schauen zu“ (red: Ozon telah berlubang, orang tak bisa berbuat apa-apa …)
free music at divine-music.info
bagus..
BalasHapus